SMP Islam Terpadu Al-Izhar School
Bentuk Anak Berhati Makkah, Otak Jerman
Ada suara drum, gitar dan keyboard. Anak-anak itu bergaya seperti pemain band yang manggung di atas pentas. Walau berkeringat dan lelah, sang penabuh drum tetap saja asyik.
Itu lah sebagian dari kegiatan ekstra kurikuler pelajar SMP Islam Terpadu (IT) Al-Izhar School di Jalan Soebrantas depan Kampus UIN Panam. Fikrah Juniansyah, pelajar kelas VIII sang penabuh drum ini, mengaku sangat senang dengan fasilitas yang diberikan SMP Al-Izhar School ini. ”Kalau di rumah, saya tak punya drum, makanya saya se-nang di sekolah,” paparnya.
Selain drum, ada juga gitar dan keyboard, anak-anak dipersilahkan memilih alat musik mana saja yang diminati. Namun, bagi anak-anak yang suka olahraga juga bisa memilih olahraga futsal atau bulutangkis. Bagis pelajar yang suka berlatih bahasa Inggris juga men-dapat kesempatan yang sama, yakni mereka dipandu guru untuk bermain scribel dan berbicara dalam bahasa Inggris.
Bukan hanya Bahasa Inggris, dijelaskan Pimpinan Yayasan Al-Izhar School, Dra Hj Rosnaniar, anak-anak yang berminat dengan bahasa Arab, mereka dilatih menulis khat atau khaligrafi. ‘’’Di SMP ini juga ada guru bahasa Arab. Walau ini SMP, tetapi muatan anak dalam pendidikan agama juga cukup banyak, disesuaikan dengan kemampuan anak,” paparnya.
Group band Al-Izhar School ini pun siap melakukan aksi jika tim Xpresi Riau Pos datang ke sekolah ini. ”Kami walau pun SMP, jangan dianggap tidak mampu beratraksi, makanya Riau Pos juga kunjungi sekolah kami,” pintanya. Selain group band, ada juga group rebana modern. Pelatihnya dari guru musik yang memang sudah terbukti berhasil melatih pelajar-pelajar membentuk group rebana modren.
Intinya, semua kamampuan anak-anak digali dan dikembangkan. Mereka semua mendapat kesempatan sama, tidak ada perbedaaan anak-anak di sini. Jika memang anak itu memiliki potensi yang cukup baik di bidang seni, maka guru akan membimbing anak itu.
”Di sini anak-anak tidak dibiarkan termenung, tetapi anak-anak dibimbing sesuai dengan per-kembangan pemikiran, bakat dan kemampuannya,” ujarnya.
Hal yang sangat penting adalah etika. Anak-anak diajarkan dalam bentuk praktik sehari-hari bagaimana minum yang sopan. ”Lihat anak itu yang baru selesai bermain bola futsal, walau dia kelelahan, waktu minum air putih dia akan duduk bersila.
Anak-anak itu bisa sopan seperti itu, tentu melalui proses. Di sinilah pentingnya proses belajar dengan cara contoh langsung dari guru , ‘’ papar Ketua KPAID Riau ini. Guru di sekolah Islam terpadu ini menjadi contoh, jadi guru bukan hanya mengajar saja, tetapi guru juga mendidik. Mendidik, kata dia, beda dengan mengajar.
Kalau mengajar hanya transper ilmu pengetahuan, sementara mendidik sang guru mentransper pengetahuan dan etika, sehingga membentuk kepribadian anak yang utuh.
”Harapan saya, anak-anak hatinya di Makkah dan pikirannya di Jerman. Seperti yang Habiebie jelaskan, bahwa kita tidak boleh ketinggalan ilmu, jangan mengabaikan iman,’’ ungkap Rosnaniar. (jrr)














Silakan beri komentarmu