Teori Konstruktivisme dalam Cooperative Learning
Teori konstruktivisme lahir dari idea Piaget dan Vygotsky. Konstruktivisme adalah satu faham bahwa siswa membina sendiri pengetahuan atau konsep secara aktif berasaskan pengetahuan dan pengalaman sedia ada. Dalam Proses ini, siswa akan menyesuaikan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan sedia ada untuk membina pengetahuan baru. Mengikut Briner (1999), pembelajaran secara konstruktivisme berlaku di mana siswa membina pengetahuan dengan menguji ide dan pendekatan berasaskan pengetahuan dan pengalaman sedia ada, mengimplikasikannya pada satu situasi baru dan mengintegerasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan binaan intelektual yang sedia wujud. Manakala mengikut Mc Brien dan Brandt (1997), konstruktivisme adalah satu pendekatan pembelajaran berasaskan kepada penelitian tentang bagaimana manusia belajar. Kebanyakan peneliti berpendapat setiap individu membina pengetahuan dan bukannya hanya menerima pengetahuan daripada orang lain.
Idea dari teori ini, siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Pikiran siswa dianggap sebagai mediator yang menerima kemasukan dari dunia luar dan menentukan apa akan dipelajari. Menurut Soedjadi, pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran adalah pendekatan di mana siswa secara individual menemukan dan mengubahsuai informasi yang kompleks, memeriksa dengan aturan yang ada dan memeriksa kembali jika perlu. Selain itu, Bell (1993) mengemukakan fahaman konstruktivisme memandang siswa datang ke bilik darjah membawa persiapan mental dan kognitifnya. Artinya, siswa yang datang ke bilik darjah sudah memiliki konsep awal dari bahan yang akan disiswai, karena mereka mempunyai potensi untuk pembelajaran mandiri terlebih dahulu dari sumber yang ada atau dari pengalaman dalam persekitaran kehidupannya. Dalam hal, ini guru bertindak sebagai penghubung dan pembentang.
Brooks dan Books (1993) pula menyatakan konstruktivisme berlaku apabila siswa membina makna tentang dunia dengan mensintesis pengalaman baru pada apa yang mereka telah faham sebelum ini. Mereka akan membentuk peraturan melalui cerminan tentang tindak balas mereka dengan objek dan idea. Apabila mereka bertemu dengan objek, ide atau perkaitan yang tak bermakna pada mereka, maka mereka akan sama ada menginterpretasikan apa yang mereka lihat supaya sesuai dengan peraturan yang telah dibentuk atau disesuaikan dengan peraturan agar dapat menerangkan informasi baru. Dalam teori konstruktivisme, penekanan diberikan pada siswa lebih daripada guru. Ini karena siswalah yang bertindak balas dengan bahan dan peristiwa dan memperoleh kefahaman tentang bahan dan peristiwa tersebut. Justru, siswa membina sendiri konsep dan membuat penyelesaian kepada masalah (Sushkin 1999).
Oleh yang demikian, dapatlah dirumuskan secara keseluruhannya pengertian atau maksud pembelajaran secara konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusatkan siswa. Guru berperanan sebagai penghubung yang membantu siswa membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Guru berperanan sebagai pereka bentuk bahan pembelajaran yang menyediakan peluang kepada siswa untuk membina pengetahuan baru. Guru akan mengenal pasti pengetahuan sedia ada siswa dan merancang kaedah pembelajarannya dengan sifat asas pengetahuan tersebut. Pengetahuan yang dimiliki siswa adalah hasil daripada aktiviti yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukannya pembelajaran yang diterima secara pasif.
Antara kelebihan pembelajaran secara konstruktivisme yang boleh dikaitkan dengan pembelajaran koperatif adalah menerusi proses berfikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, siswa akan berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana ide dan membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi bebagai kemungkinan dan cabaran. Antara aktivitas yang boleh dimanfaatkan dari pembelajaran koperatif ialah melalui aktivitas membuat penelitian dan penyiasatan seperti mengenalpasti masalah, mengumpul informasi, memproses data, membuat analisis dan membuat kesimpulan.
Dalam membentuk kefahaman siswa, pembelajaran secara pembelajaran koperatif juga boleh digunakan untuk siswa faham tentang sesuatu konsep dan idea yang lebih jelas, apabila mereka terlibat secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru.***










[...] Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui … Teori Konstruktivisme dalam Cooperative Learning [...]
[...] Teori Konstruktivisme dalam Cooperative Learning [...]
Silakan beri komentarmu
Interaktif Xpresi Riau Pos
KIRIMKAN KOMENTAR KAMU. Lihat TEMA hari ini
Indeks Halaman
Cari Info Apa?
Artikel Pendidikan oleh Drs H Isjoni MSi, Pakar Pendidikan Astrologi Berita Kampus Berita Sekolah Bla Bla Bla Cartoon Corner Curhat Remaja Fashion Trendsetter Film Gaya Horoskop Info Info Anak Muda Info Musik Terbaru Info Teknologi Terkini Kumpulan Cerpen Kumpulan Puisi Lirik Lagu Mail MAN 2 Model Pekanbaru Model Musik Pakar Pendidikan Penting Banget Prestasi Puisi Cinta Ramalan Bintang Resensi Buku Terbaru Resensi Novel Resensi Novel Terbaru Sinopsis Film SMAN 4 Pekanbaru SMAN Plus Riau SMS Gaul, Kenalan Style Tempat Belajar Sastra Tempat Kenalan Tips Remaja UIN Suska Universitas Riau Unri Utama X-Share Xpresi Harian ZodiakArsip Xpresi