Home » Artikel Pendidikan

Pengelolaan Kelas Cooperative Learning

25 Oktober 2009 2.242 views 2 Comments

Menciptakan lingkungan yang optimal baik secara fisik maupun mental, dengan cara menciptakan suasana kelas yang yang nyaman, suasana hati yang gembira tanpa tekanan maka dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Sesuai dengan pen-dapat tersebut, maka dalam pelaksanaan model cooperative learning dibutuhkan kemauan dan kemampuan serta kreatifitas guru dalam mengelola lingkungan kelas. Sehingga dengan menggunakan model ini guru bukannya bertambah pasif tapi harus menjadi lebih aktif terutama saat menyusun rencana pembelajaran secara matang, pengaturan kelas saat pelaksanaan dan membuat tugas untuk dikerjakan oleh siswa bersama dengan kelompoknya.

Dalam model pembelajaran cooperative learning, dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) dari anggota kelompoknya Sehingga masing-masing siswa harus memiliki niat untuk bekerja sama dengan anggota lainnya, di samping itu juga harus memiliki kiat-kiat bagaimana caranya berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam pengelolaan kelas model cooperative learning ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas.

(a). Pembentukan Kelompok. Pada saat pembentukan kelompok guru membuat kelompok yang heterogen. Pembentukan kelompok dibentuk dengan memperhatikan kemampuan akademis. Pada umumnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang yang terdiri atas satu orang yang berkemampuan tinggi, dua orang yang berkemampuan sedang, dan satu orang yang berkemampuan rendah.

Alasan dibentuk kelompok heterogen adalah: Pertama, memberi kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender. Ketiga, memudahkan pengelolaan kelas karena masing-masing kelompok memiliki anak yang berkemampuan tingii (special hilper), yang dapat membantu teman lainnya dalam memecahkan suatu pemasalahan dalam kelompok.

(b). Pemberian semangat kelompok. Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran cooperative learning ini maka masing-masing kelompok perlu memiliki semangat kelompok. Pemberian semangat ini sangat penting agar kelompoknya dapar bekerja lebih baik ini. Pemberian semangat ini bisa dibina dengan melakukan beberapa kegiatan yang bisa mempererat hubungan antara anggota kelompok. yaitu melalui kegiatan kesamaan kelompok, identitas kelompok, maupun sapaan atau sorak kelompok. Dengan demikian diharapkan tertanam perasaan saling memiliki di antara anggota kelompok. Rasa saling memiliki menciptakan nasa kebersamaan, kesatuan, kesepakatan dan dukungan dalam belajar. Dengan membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab dari pelajar.

(c). Penataan ruang kelas. Penataan ruang kelas sangat dipengaruhi oleh filsafat dan metode pembelajaran yang dipakai di kelas. Pada umumnya penataan ruang kelas diatur secara klasikal, karena hal ini sangat sesuai dengan metode ceramah. Dalam metode ini guru berperan sebagai nara sumber yang utama atau mungkin satu-satunya nara sumber untuk model cooperative learning guru tidak hanya sebagai satu-satunya nara sumber. Tetapi siswa juga bisa belajar dari temannya dan guru berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator dan evaluator. Sebagai konsekuensinya ruang kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang terjadinya dialog dalam cooperative learning. Pengaturan bangku memainkan peranan penting dalam kegiatan belajar model cooperative learning ini sehingga semua siswa bisa melihat guru atau papan tulis dengan jelas. Disamping itu harus bisa melihat dan menjangkau rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.

Oleh sebab itu, guru harus mampu menciptakan pengelolaan kelas cooperative learning, sehingga terjadi suatu proses interaksi yang satu individu dengan individu lainnya dapat terjadi, demikian pula interaksi antar kelompok dapat terbanguan. Karena inti dari cooperative learning adalah proses pembelajaran secara kelompok (grup).

Menurut berbagai kajian di temukan bahwa pembelajaran secara berkelompok kegiatan yang dapat menciptakan aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan dapat terbangun. Hasil dari proses pengajaran dan pembelajaran cooperative learning lebih optimal, dan banyak kelebihan dari pelaksanaan model pengajaran dan pembelajaran cooperative leraning ini jika dilakukan oleh guru. Semoga.***


Baca Juga Yang Dibawah ini


  • » Tak Mudah Menjadi Guru
  • » Perlu Diketahui Guru
  • » Prosedur Pembelajaran Kontekstual
  • » Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Kontekstual
  • » Sejarah Pembelajaran Kontekstual
  • » Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa
  • » Mengapa Pembelajaran Kontekstual
  • » Hakiki Pembelajaran Kontekstual
  • » Efektifitas Model Pembelajaran Cooperative Learning
  • » Karakteristik STAD
  • » Apa dan Mengapa Student Teams Achievement Division (STAD)
  • » Berbagai Saran dalam Cooperative Learning
  • » Teori Pembelajaran Vygotsky dalam Cooperative Learning
  • » Teori Pembelajaran Piaget
  • » Teori Pembelajaran Ausubel
  • » Teori Konstruktivisme dalam Cooperative Learning
  • » Tujuan Pengembangan Model Cooperative Learning
  • » Konsep Dasar Pengembangan Cooperative Learning
  • » Unsur-unsur dari Cooperative Learning
  • » Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning
  • 2 Comments »

    • tya said:

      haduwww.thanks udah bantu.tp artikel mgenai kpendidikannya ditambah dund bwt nambah reff agy!!!

    • 2010 cinta itu pembodohan » Blog Archive » Pendidikan di Indonesia said:

      [...] Dari berbagai pengamatan dan penelitian dari banyak pakar bahwa ada beberapa saran yang perlu kita sampaikan kepada guru tentang dampak pelaksanaan cooperative learning dan akan berdampak langsung kepada guru di lapangan. (a). Bagi guru. Bagi guru pertama, disarankan untuk mengubah paradigma tentang konsep yang memandang pembelajaran sebagai proses pengalihan pengetahuan (transfer of knowledge) kepada konsep yang memandang sejarah sebagai proses konstruktif. Perubahan ini sesuai dengan perubahan terhadap misi dan rujuan pembelajaran sejarah. Sebagai konsekuensinya guru sejarah harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengubah pola pengajaran lama yang masih bertumpu pada teacher … Pengelolaan Kelas Cooperative Learning [...]

    Silakan beri komentarmu

    Berikan komentarmu. Bisa juga minta info jika ada komentar baru lewat RSS.

    Curahkan isi hati, tunjukkan Xpresi mu!!! no spam or your IP will be banned

    Kamu juga bisa gunakan tags ini:
    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>