Nonton Siaran Berbahasa Asing
Banyak Manfaat Dirasakan
Good morning guys,
We will come back to chat Ampuh on Global TV
Check it out…
NGGAK asing lagi kan dengan kalimat di atas. Yups, kalimat yang sering diucapkan VJ Daniel atau VJ Mike ketika membawa acara Chat Ampuh di Global TV.
Nah, satelit buatan manusia kian canggih. Jangankan sinyal dari stasiun televisi, radio, internet saat ini berperilaku bak radar planet bumi yang siap menangkap dari galaksi sebelah , telinga, mata maupun panca indra sobat Xpresi (sobeX) di Pekanbaru punya fungsi sama.
Sebanyak 71,4 persen sobeX membenarkan, kalo mereka juga menangkap sinyal asing. Yang mereka tangkap adalah siaran televisi, internet, maupun radio berbahasa asing. Siaran ditangkap, manfaat didapat (91,3 persen), mendapatkan skill baru (82,5 persen). Kemudian pintar berbahasa asing (11,7 persen), sukses menghilangkan rasa bosan (2,9 persen), lainnya mengaku menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka.
Telinga Fadilla Safitri Herman menjadi penerima bahasa asing yang siap berbagi. Pelajar SMPIT Al Ittihad itu sering menguji kemampuan bahasa asingnya lewat siaran berbahasa negeri Paman Sam itu.
Media yang digunakan adalah televisi. “Nggak perlu repot. Tinggal stel channel salah satu televisi swasta, vocabulary dan pengetahuanku nambah sekaligus,” ujarnya.
Kefasihan bahasa asingnya, bisa diuji sekarang. Nomor satunya adalah memperkaya kosa kata bahasa Inggris. Bisa jadi bekal test TOEFL nih? “Iya, nggak perlu repot-repot nyari di kamus,“ ucapnya.
“Bule lokal” kedua, adalah Intan. Pelajar SMAN 3 itu mengaku, logatnya menjadi lebih British setelah rajin menyimak siaran sebuah channel TV asing. Menyaksikan acara berita berbahasa asing sukses memberi manfaat buat kelancaran dialognya. “Sekarang nggak malu untuk tampil di depan kelas ketika pelajaran bahasa Inggris. I can speak English well, now,“ selorohnya.
Kalo manfaat fasih berbahasa asing dirasakan Dea Tami yang sekolah di SMAN 1. Ia ini mendapatkan benefit berupa variasi bahasa. Maklum, kalo nggak Indonesia, ya bahasa daerah asli, yakni Minang. Dengan asupan baru itu, Iqbal ngerasa dunianya lebih bermakna.
Dia lebih sering mendapatkan pengaruh asing itu dari kotak ajaib yang ditemukan Marconi. Apa, hayo? “Dari Radio siaran berbahsa asing.
Lewat radio bikin kuping labih terlatih. Karena nggak ada gambar yang membantu dan kudu cepat ngerti,” ungkapnya. Urusan jenis bahasa, dia pilih bahasa Mandarin. ”Keluargaku masih ada keturunan Tionghua. Ntar aneh kan kalo aku nggak ngerti bahasa keluarga,” imbuhnya.(m/uli)













Silakan beri komentarmu