Home » Cerpen Remaja

Tarian Amora - Sebuah Cerpen

13 Desember 2009 1.079 views One Comment

Ia melihat matanya berkilauan dengan goresan kuas yang melengkung keemasan, menguatkan ketegasan di sana. Mata berwarna kecoklatan dan alis yang berjejer rapi. Perona pipi melekat di kulit wajahnya yang kuning langsat, juga lipstik merah muda yang dipoles rapi di bibirnya yang merekah lembut.

Ia tersenyum, hidungnya yang tak terlalu mancung cukup membuatnya merasa bersyukur bahwa ketika ia bercermin seperti sekarang, ia merasakan keajaiban itu, keajaiban dari Sang Pencipta yang selalu membuatnya percaya diri.

Lalu anting-anting emas berukiran itu ia kenakan di kedua telinganya maka terbersit pula kenangannya bersama perkumpulan Tari Tara, perkumpulan bagi penari tradisional di kampung. Anting-anting itu pula yang menyebabkan kebencian dan iri hati dari rekan seprofesinya. Hingga suatu saat kesempatan menyingkirkan dirinya dari perkumpulan itu tiba dan ia merasa sangat terpukul.

***

“Amora, kami ingin bicara penting,” tiba-tiba ketua perkumpulan tari itu memanggilnya bersama dua rekan lain. Amora pikir akan ada panggilan lagi untuk sebuah acara, namun Amora keliru. Ia malah mendapat sanksi hari itu juga.
“Kami tidak menyangka kau menipu kami semua di sini. Kau lahirkan bayi itu di kota. Pantas saja dua bulan belakangan ini kau minta cuti. Heh…cuti melahirkan, ya?” wanita berambut pirang menudingnya.“Hah…apa? Itu…tak benar,” Amora kaget mendengar pernyataan itu. “Dua bulan kemarin aku sakit, dan bayi itu… bagaimana kau tahu?  Kau menguntitku?” Amora balik tanya.

“Itu kenyataannya! Kau hamil di luar nikah!” “Tapi kalian tahu perutku tidak pernah membuncit, bagaimana…”
“Bayimu prematur, bukan? Kandungan 5 bulan saja masih bisa disembunyikan,” wanita itu cepat-cepat memotong perkataan Amora. “Ya, bos. Dia penipu. Lihat saja anting dan perhiasannya, dia bisa mendapatkan itu dari mencuri,” wanita yang lainnya meyakinkan. “Tidak bos. Aku tidak mencuri dan aku tidak pernah hamil! Bayi itu kutemukan di tong sampah di ujung kampung ini, saat sebulan lalu aku kembali,” Amora juga berusaha meyakinkan. “Sudah! Aku tidak mau mendengar pertengkaran kalian lagi,” Ketua mendengus  kesal, sementara Amora berlutut menangis.
“Bos. Aku sungguh-sungguh tidak melakukan apapun.” “Maaf, Amora. Aku tidak bisa membantumu. Aku tidak mau kehilangan perkumpulan ini hanya demi satu orang. Sebagai sesama perempuan aku menyayangkan sikapmu. Semoga kau bisa mengurus anakmu.”
“Tapi, bos. Aku…hu…”

“Jangan menangis buaya!” wanita itu mendorongnya. “Aku tidak berbuat apapun, bos! Tolonglah…aku butuh pekerjaan ini!” “Kau berbakat, Amora. Tapi aku tidak bisa membantumu. Besok kau tak usah kemari lagi,” mereka pun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Amora sendiri dalam kepedihan hatinya. Sakit sekali.

***

Amora menatap bayi mungil itu dengan mata penuh kasih, bayi yang ditemukannya sebulan lalu, yang ia beri nama Dinda. Sudah dua botol susu dihabiskannya. Ah, ia makin pintar saja. Semoga Dinda baik-baik saja meski tak mendapatkan ASI eksklusif. Amora ingat perkataan teman sekerjanya itu, mereka bilang bayi itu prematur, padahal tidak. Sungguh ia merasa fitnah itu memang menyakitkan. Jika mengingatnya ia menangis terus-terusan. Apa salahnya jika ia memelihara bayi malang itu? Apa salahnya juga kalau ia berada di perkumpulan Tari? Ia tidak habis fikir.

Amora mendesah dan bingung, jika ia tidak lagi bekerja. Bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk membeli susu dan perlengkapan lainnya. Amora lalu menangis, dan Bibi mengamatinya.

“Ara, kenapa kau menangis, nak? Kau sakit?” “Tidak, Bi. Ara…Ara dipecat. Ara tidak bisa lagi menari.”
Raut muka Bibi hanya terkejut sebentar, lalu membelai rambut Amora. “Tarian itu seperti nyawa kedua bagimu. Ada atau tidaknya sebuah perkumpulan, ia akan selalu hidup dalam dirimu. Jika kau takut, kau takkan bisa bekerja sama dengan tarianmu sendiri. Usahakanlah tanpa perkumpulan itu dan kau bisa cari yang lain. Jika kau butuh uang, Bibi ada sedikit, kau bisa gunakan untuk susu Dinda dan beli beras.”

“Tidak, Bi. Aku sudah banyak merepotkan Bibi. Harta Bibi sudah habis untuk mengobati sakit di dadaku kemarin. Bibi juga sakit ginjal, Ara takut Bibi kenapa-kenapa. Aku akan usahakan kita bisa hidup nyaman. Ara janji.” Amora memeluk erat Bibinya yang makin renta itu, semoga hari esok lebih baik, pikirnya seraya menatap Dinda yang tersenyum lugu.

***

Amora menangis, karena ketika ia mendatangi acara pesta atau sejenisnya, ia mendapat cemooh dan hinaan. Mereka  tidak membutuhkan jasanya sebagai penari tradisional untuk mengisi acara. Mereka lebih suka mengisi acara dengan musik disco atau barat. Amora bingung, bagaimana caranya ia mendapatkan uang karena tabungannya semakin menipis.

Amora lalu berfikir lagi dan berhias seperti biasa. Ia pergi ke tengah kota, tepatnya di tengah keramaian dengan membawa kotak kayu berbentuk segi empat dan tape kecil dengan alunan musik Melayu yang mengusung tariannya. Juga lantunan lagu yang ia nyanyikan. Cukup banyak yang memperhatikan ia menari. Maka hari itu ia puas membawa pulang uang sekadar membeli susu atau makanan buat bibinya.
Tapi ketika ia sampai di rumah, ia hanya mendapati Ijah, tetangganya yang sering menemani Dinda bermain, menangis pelan di depan pintu. Amora langsung berdesir takut. Mendengar apa yang akan dikatakan Ijah.
“Ada apa?” Amora menghampirinya

“Bibi dan Dinda masuk Rumah Sakit. Tadi pagi Dinda panas, dan Bibi tergopoh-gopoh hendak membawa Dinda ke Puskesmas, tapi Bibi terjatuh. Dan tetangga yang lain membawanya ke rumah sakit.”
Amora tak kuasa mendengarnya, ia tak tahu harus bagaimana, keringat dinginnya bercucuran. Semuanya bercampur aduk. Panasnya matahari, lelahnya ia menari dan berita yang makin menyesakkan dadanya. Amora pun lunglai tak sadarkan diri.
***
Kembali ia mematut dirinya di cermin, seraya mengamati anting-anting emas itu lagi. Seseorang telah mengembalikan anting peninggalan ibunya ketika ia telah menjual anting itu ke tukang perhiasan, agar dapat melunasi administrasi di rumah sakit.

“Kamu tak perlu menjual anting sebagus ini,” seorang lelaki paruh baya menghampirinya sambil menyodorkan anting itu. “Maksud bapak apa? Apa kita kenal?” Amora curiga “Tidak, saya peduli saja. Siapa namamu?”“Amora. Bapak siapa?” “Nama yang bagus. Saya Bapak Sutrisno. Saya begitu kagum dengan tarian kamu, sangat menjiwai dan jarang sekali orang menarikan tarian tradisional seperti kamu. Dengan suara yang begitu khas.” “Di kampung saya banyak kok, yang seperti itu, bapak berlebihan.”
“Tidak sebagus kamu tentunya.”

“Kapan bapak pernah melihatku menari?” selidik Amora. “Ketika kamu menari bersama kotak kayu itu.” “Oh…” Amora tersenyum geli. “Dan saya sudah tahu tentang Bi-bimu, saya sempat menanyakannya pada tetangga. Maaf.” “Bapak tidak perlu minta maaf, itulah alasan saya menjual anting-anting ini. Ginjal Bibi mesti di operasi.”

Lalu percakapan itu berlanjut. Lelaki paruh baya itu menawarkan pekerjaan padanya. Ia ternyata bekerja di Dinas Kebudayaan dan Amora mendapatkan tugas sebagai tenaga pengajar di sanggar budaya milik pemerintah atas rekomendasi Bapak yang baik hati itu. Dan dengan begitu Amora bisa membayar biaya rumah sakit Bibinya dan membiayai hidup mereka bertiga bersama Dinda tersayang.

Tidak hanya itu, ia bisa membuktikan kebenaran sesungguhnya pada rekan dan ketua yang turut menfitnahnya dulu, ia bahagia sekali karena kini di setiap acara kebudayaan, Amora mendapat tempat sebagai penari yang tak lagi di cemooh hanya karena tariannya kuno.

Amora selesai bercermin, baju terusan berbahan katun itu melekat bersama pernak pernik khas tradisional Melayu. kini di hadapan panggung ada ribuan penonton yang ingin menyaksikan dirinya menari. Kecantikan budaya yang berbaur dalam tubuh gemulainya. Amora menarik napas seraya tersenyum dan melangkah menuju panggung miliknya yang seketika itu juga bergema dengan riuh tepuk tangan penonton. Aku bisa…! Bisik Amora pelan dalam permulaan tariannya.***

————————————

Desy Wahab,
anggota Sekolah Menulis
Paragraf Pekanbaru,
freelance sebagai komikus


Baca Juga Yang Dibawah ini


  • » Francis dan Kucing-kucing Kecil
  • » Antara Aku dan Bintang
  • » Bunga yang Berembun : Cerpen Sedih
  • » Sepasang Mata Cahaya
  • » Sebait Puisi Kala Desember
  • » Memandang Bulan - Sebuah Cerpen
  • » Kisah Kecewa Mesin Ketik Tua
  • » Aku dan Sashi Chan
  • » Siti Munah, Oh, Siti Munah
  • » Lebaran Pertama
  • » Cahaya Ramadan - Sebuah Cerpen
  • » Seorang Filosof
  • » Senja Digayut Sakit - Sebuah Cerpen
  • » Aku, Sahabat, dan Penjahat - Sebuah Cerpen
  • » Cinta Pertama
  • » Pertemuan di Lempuyangan - Sebuah Cerpen
  • » Panggil Aku "Miss Late"
  • » Silsilah Keluarga Aneh
  • » Tanpa Kata - Sebuah Cerpen
  • » Mengubur Asa - Sebuah Cerpen
  • One Comment »

    • Zurnila said:

      Desi, cerpenmu mengingatkan aku pada seseorang…

    Silakan beri komentarmu

    Berikan komentarmu. Bisa juga minta info jika ada komentar baru lewat RSS.

    Curahkan isi hati, tunjukkan Xpresi mu!!! no spam or your IP will be banned

    Kamu juga bisa gunakan tags ini:
    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>