Aku dan Sashi Chan
Aku benar-benar linglung. Baru hari pertamaku belajar di SMU Darma, aku harus duduk bersebelahan dengan Sashi, salah satu partikel berkulit putih yang asli menggunakan logat Tokyo ketika berkenalan denganku. Awalnya aku bingung, tapi untungnya ia sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia, walau terpatah-patah dan membuatku ingin tahu dia lebih lanjut.
“Hai, Shasi. nice to meet you,” sungguh aku tertawa geli saat bibir ini mengucapkan kata itu. Shasi tersenyum dan membalas jabat tanganku dengan erat.
“Yoroshiku onegaishimasu,” Sashi merapatkan telapak tangannya. Aku jadi kebingungan. “Mohon bimbingannya,” ulangnya. Oh, aku mengerti dan mengangguk. Ah, benar-benar aneh.
***
“Sashi! Sashi,” aku tak menemukannya di dalam kelas maupun di kantin sekolah. Sudah sepuluh menit aku mencari partikel berkulit putih itu. Tapi saat aku melangkah melewati taman belakang sekolah, aku melihatnya bersama seseorang. Ada Sashi dan Hans duduk berhadapan di sebuah bangku taman. Hans adalah murid lokal sebelah yang selama ini aku taksir. Ada apa di antara mereka ya? Kok aku sampai tidak tahu begini, padahal sudah lebih enam bulan ini aku dan Sashi bersahabat.
“Sashi,” Hans berkata dengan lembutnya. “Aku mungkin akan berat menerima ini.”
“Aku tidak bisa, Hans. Suatu saat aku pasti kembali ke Jepang. Aku tidak mau merusak semuanya.”
“Maksudmu?”
“Audy.”
Loh, loh! Itukan namaku. “Dia sahabatku, Hans. Gomen na sai. Aku tidak bisa. Sudahlah! Aku harus ke kelas.” Sashi melangkah meninggalkan Hans terpaku sendiri. Aku berdebar, Hans pasti menyukai Sashi. Dan Sashi pasti menolak Hans demi aku. Aku tak tahu harus bagaimana. Oh Tuhan.
***
Malam yang begitu dingin, di antara rintik gerimis aku sempatkan untuk menemani Sashi membeli hadiah untuk Hans. Kami melewati jalan setapak menuju jalur utama yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan.
“O genki desu ka?” tanya Sashi melihatku memakai jaket yang cukup tebal.
“Aku baik baik saja, hanya kedinginan,” sahabatku itu memang orang yang perhatian, mendengar jawabanku ia pun menarikku ke sebuah toko. “Kalau Hans suka kemeja ini tidak ya?” tanyanya lagi
“Mm..aku tidak pernah melihat Hans memakai kemeja,” sahutku sambil garuk-garuk kepala. Sashi kemudian beralih pada sebuah arloji dalam etalase.
“Woww. Bagus sekali! Hans pasti suka ini.”
“Ya, jam tangannya terlihat butut. Apa duitmu cukup?”
“Tentu. Buat Hans, aku akan membelikannya.”
Setelah penjaga toko membungkus rapi kado itu. Sashi mengajakku ke sebuah resto Jepang kesukaannya. Ia sudah merindukan sushi, yah terpaksa juga aku menikmati hidangan itu walau aku lebih suka pecel lele.
“Aku akan kembali ke Jepang, Audy. Satu atau dua bulan lagi.”
“Uhuuks..” aku tersedak. Kaget mendengar ucapannya tadi. Minuman yang baru kupesan tak jadi menarik minatku. “Kenapa mendadak? Tunggu sampai tamat saja.”
“Maafkan aku,Audy. Pekerjaan papaku yang mengharuskan kami pindah.”
“Kamu bercanda, kan?”
“Sure! aku serius. Aku bahagia bisa bersahabat denganmu. Aku sayang padamu Audy. Meski sebenarnya aku yang banyak menyakitimu. Gomen na sai, aku minta maaf.” Aku memeluk Sashi erat, ada yang membuncah dari dadaku, rasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
“Aku titip Hans ya.”
“Apa? Tidak Sashi, aku tak bisa. Apa kamu tidak mengerti juga!!” isakku lagi
“Audy, Maaf.”
***
“Audy…” Hans mengagetkanku, mengulurkan tangannya dan arloji itu masih mengantung di sana. “Melamun ya? Kita makan yuk, kamu lapar kan?” aku menggeleng.
“Itu apa?” aku melirik ke saku bajunya.
“Oh ini, promosi dari universitas. Sebentar lagi ‘kan kita sudah menerima pengumuman kelulusan. Yah, milih-milih dululah.”
“Bukankah dulu kamu ingin mengejar beasiswa ke Jepang?”
“Itukan dulu. Sekarang aku nyaman di sini, ‘kan tidak kalah bagusnya. Dan kita akan masuk universitas yang sama,” Hans membuatku tersenyum malu.
“Bagaimana dengan Sashi?”
“Kamu masih merasa bersalah? Sudahlah, Audy. Sashi tak pernah menginginkanku dan aku baru sadar itu.”
“Menurutku tidak. Dulu kalian begitu dekat, mustahil jika…”
“Jika aku lebih memilih bersamamu? Benar kan?”
Aku diam. Suara bel memecah keheningan kami. Hans pun membuka pintu rumahnya. Ada aroma yang dulu pernah kutemui, wangi bunga sakura dalam jejak ingatanku.
“Hans !!” Di depan mataku, partikel berkulit putih itu memeluk Hans erat. Aku terpana tak percaya. Benarkah yang kulihat. Dia kembali. Sashi Chan, kaukah itu?. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku bingung dan takut, takut jika Sashi akan merebut Hans dariku, atau aku yang telah merebut Hans darinya. Hans… jeritku dalam hati. Jangan Sashi, jangan kembali, Hans pasti lebih memilihmu. Aku tak ingat apa apa lagi selain wajah Sashi yang menyeramkan yang membuatku jatuh pingsan.
***
“Hans, aku kenapa?” tanyaku saat mata ini terbuka, sedikit rasa pusing menyelinap di ubun kepalaku. Ada mama Hans juga di sampingku. “Kamu pingsan, sayang. Pasti belum makan ya?” Mama Hans mengusap wajahku dengan lembut.
“Sashi…”
“Ya, Sashi tadi kemari. Ia cuma singgah sebentar. Tapi kamu keburu pingsan. Dan ia hanya sempat menitipkan surat ini.” Hans mengulurkan kertas putih itu ke jemariku. Akupun membacanya perlahan.
Sahabatku, Audy. Omedetou ne!! selamat!! Aku senang akhirnya kamu jujur pada perasaanmu sendiri, begitu juga Hans. Aku dukung, kok. Maaf aku hanya singgah sebentar. Tapi jangan khawatir, Papa mengizinkanku untuk kuliah di kota ini lagi. Dan aku pastinya membutuhkan pertolongan kedua sahabatku ini disini. Kumohon, Audy. Aku merindukanmu. Aku akan kembali. Maaf aku membuatmu pingsan. Mata ashita! .
“Hans, kamu yakin?” tanyaku usai melipat surat itu kembali.
“Tentu, Audy.” Hans tersenyum. “Pergi atau kembalinya Sashi tak akan mempengaruhi perasaan ini lagi. Aku sangat menyayangimu.”
“Terima kasih, Hans. Loh, arloji kamu mana?”
“Tidak perlu. Bulan depan, aku tunggu arloji baru darimu.”
“Hans…” ia membuatku terharu. Hans tersenyum lagi padaku, senyum yang menenangkan. Yang membuat semangatku jadi baru. Terima kasih Sashi, Terima kasih Hans. Aku menyayangi kalian berdua. Kimochi..!***
——————————————–
Desy Wahab,
anggota Sekolah Menulis
“Paragraf”
———————–
Catatan:
Yoroshiku onegaishimasu: mohon bantuan atau bimbingannya
Gomen na sai:minta maaf
O genki desu ka:apakah kamu sehat
Omedetou, ne:selamat ya
Mata ashita:sampai jumpa besok
Kimochi:menyatakan perasaan yang nyaman
———————–
Ilustrasi: Aidil Adri









Cerita Nya bagus,menarik Gw suka….
Sukses deH buat penulis Nya………
sLm knL ajj,,
crita.a kece buangetss .
i like it …
so sweet… kisah yang romntis. cnta merka bener2 sjati. jd pengen…
ceriTanya ReMaja Baget…Gw suka..^_^
MM……….kArya-karya kalian bagus banget.aku juga berminat,tapiaku nggak tau caranya.bahkan aku juga mau jadi novelis,tapi hingga kini aku belum ketemu sebuah penerbit pun.
ceritanya asyik untuk dibaca…
aq suka bnget…
good,good
i like it so much
i hope i can as cool as hans hehe
Good luck ya…
i want to be a novelist too
Silakan beri komentarmu
Interaktif Xpresi Riau Pos
KIRIMKAN KOMENTAR KAMU. Lihat TEMA hari ini
Indeks Halaman
Cari Info Apa?
Artikel Pendidikan oleh Drs H Isjoni MSi, Pakar Pendidikan Astrologi Berita Kampus Berita Sekolah Bla Bla Bla Cartoon Corner Curhat Remaja Fashion Trendsetter Film Gaya Horoskop Info Info Anak Muda Info Musik Terbaru Info Teknologi Terkini Kumpulan Cerpen Kumpulan Puisi Lirik Lagu Mail MAN 2 Model Pekanbaru Model Musik Pakar Pendidikan Penting Banget Prestasi Puisi Cinta Ramalan Bintang Resensi Buku Terbaru Resensi Novel Resensi Novel Terbaru Sinopsis Film SMAN 4 Pekanbaru SMAN Plus Riau SMS Gaul, Kenalan Style Tempat Belajar Sastra Tempat Kenalan Tips Remaja UIN Suska Universitas Riau Unri Utama X-Share Xpresi Harian ZodiakArsip Xpresi
Most Commented
Most Viewed
- Blogger Indonesia, Fatih Syuhud, Student Magazine
- NegeriAds.com solusi berpromosi
Xpresi Riau Pos | Media online anak muda Riau Copyrigth© 2009 Riau Pos | Dilarang mengambil seluruh atau sebagian isi situs ini tampa menyebutkan sumber asli | RSS Feed
Jln HR Subrantas KM 10,5 Pekanbaru | Email: info_xpresi@yahoo.com silakan kirim karya kamu dalam bentuk puisi, cerpen dan berita | Theme by Michael Hutagalung