Home » Archive

Articles in the Koleksi Puisi Category

Koleksi Puisi »

[23 Mei 2010 | No Comment | 1.394 views]

Sekarang kutahu
Dalam keracak laut biru
Ada kasih yang bercumbu
Menghitung hamparan waktu
Sebelumnya,
Tiada bernahu
Apa yang kulagu
Sebab kasihmu
Menggantung rindu-rindu
Aku jadi gagu

Puisi Alam »

[23 Mei 2010 | One Comment | 527 views]

Hujanku sudah berkalang tanah ditebas lalang malam petangberdarah lehernya agak kekiri terguling kengarai melantak tunggu,menyeringai ia bersakitanmerasa benar sebelum lalu.Ibaku menengok dari kejauhanRintik terisak menengadah mengjangkau-jangkau, ingin turutpun teguh kutegah, hilang sudah kawan sepermainan.Tak niat menega hilang keduanya, hujan dengan rintikmembujukku pada rintik, biar hujan pergi sendiri tinggallah rintik dengankuacuh meraung saja pesenyum rintikKuturut lalang hendak bertanya,bercakap sejenaklah sudahlalang mengapa engkau menebas hujan?berjawab tidak dari lalang, menekur iaHujan kan sudah begitu semenjak dulu, menitik air, benar melebatkah ia?atau kau diasung pawang-pawang?picik kau lalang!kemudian, rintik menyanyi sambil mencangkungumpama beruk tidak terjualHujan …

Koleksi Puisi »

[9 Mei 2010 | No Comment | 543 views]

Pagi dan malam yang sama
Mukaku mulai keriput
Saat kau tertelan waktu
Dengan juntaian peristiwa
Tersibak kaku
Aku masih di tempat yang sama
Menunggu
Berabad-abad yang lalu

Koleksi Puisi »

[9 Mei 2010 | No Comment | 1.510 views]

sedetik menatapmu kali pertama
sebetik pun rasa tak ingin menyapa
kebencian pun dendam
merajam pun menjilam
kubakar kau mauku
dengan kobar menggebu
inginku jilat hangus tubuhmu
degan puncak api amarahku
hingga tersisa sebatas abu
namun ku tak mampu.batu.
kau begitu sejuk, menekuk
kobaran hati terbius takluk
karena kau bebutir bening embun
dan dedaun hatiku hijau rimbun
———————–
Puisi Tentang Hati
Zahra Permata Bunda,
Penyuka sastra, tinggal di Pelalawan

Koleksi Puisi »

[9 Mei 2010 | No Comment | 1.040 views]

Di bawah langit senja Mei
Air memantulkan langit yang diam
di tepian di antara sungai-sungai
dan bebatuan
Kulihat sayap-sayap yang patah
di dalam lingkaran meribut
Kuamati makhluk-makhluk itu
terbang ke udara tinggi

Koleksi Puisi »

[9 Mei 2010 | No Comment | 1.081 views]

Jangan tanya siapa aku
cerita seorang Rianty
menatap benda-benda
di langit matahari
dan bulan yang beredar
pada janji sendiri
Jangan tanya kapan hariku
tanyakan pada senja di ujung magrib
yang redup di kala matahari diganti

Puisi Alam »

[9 Mei 2010 | No Comment | 778 views]

Di ufuk barat
Cahaya rinduku meredup sendu
Bias mega seakan memenggal kenangan
Tentang sekeping hati
yang melekat di lamunan
Sungguh
Alunan senja nan teduh
Meredam asmara yang kian rapuh
Nada-nada tak berirama
Mengusik jiwa dalam peraduannya

Koleksi Puisi »

[18 Apr 2010 | No Comment | 1.541 views]

Kuukir wajah impian
di mega harapan
semua seisi dunia
tak mengetahui apa yang terasa
hanya Dialah satu-satunya
yang mengarah ke cahaya lentera
Kuukir lagi tubuhnya
merangkai sekuntum pusaka
yang tak ternilai
menjadikan intan yang selalu terpancar
tajam menusuk mata hatinya
Kutemukan setungkah
bebatuan hidup yang tertimbun
oleh rerumputan yang membusuk
kini, kuukir dengan pengharapan keindahan
menjadikan sebuah sosok
yang teragungkan
dengan pahatan hidupku
tuk menemukan kesempurnaan.
————–
Puisi Tentang Kehidupan
Dian Martinah,
STKIP Laksemana Bengkalis

Puisi Alam »

[18 Apr 2010 | One Comment | 1.051 views]

Kami bisa memberitahumu
Banyak airmata yang tertumpah
Dari bukit ke lembah
Kami bisa berkisah
Banyak perasaan terhanyut
Dari hulu ke hilir
Kami bisa membisik
Rahasia rahasia
Dari sungai ke laut

Koleksi Puisi »

[4 Apr 2010 | One Comment | 975 views]

Kuda-kuda itu mulai berlari, Ayah!
Mereka berpacu lalu kembali.
Pagi-pagi kulihat jasmine, Ayah!
Kuncup yang mulai mekar, esok layu kembali.
Pergilah Ayah!
Mengais butir-butir emas
di balik jeruji senja.
Gelanggang sesak mengembalikan sunyi
menuju kubah kegelapan.
Sentak terhenti detak nadi
memecah detik berselendang kaca.
Sayang! Jasad telah mengkal
memintal amanah tersisih kebisuan.

Koleksi Puisi »

[4 Apr 2010 | No Comment | 1.099 views]

aku menyapa pada rembulan
yang bersinar cerah
bersama hembusan sang bayu
berhembus ayu
mematahkan ranting-ranting pilu
bermadah di kalbuku
dayung awan telah patah
dihempas dengus ombak
dan puntung sunyi
telah terbakar oleh sepi
tawaku pun terbelah
oleh kelamnya malam