Home » Archive

Articles in the Cerpen Remaja Category

Cerpen Remaja »

[14 Jun 2009 | One Comment | 3.768 views]
Cowok ”Aquarium”

RANI sudah dua bulan ini rajin banget pergi ke perpustakaan umum di kotaku. Sekitar jam delapan pagi, di hari minggu, pasti dia sudah bersiap sedia pergi ke sana. Aku sendiri tak tahu mengapa. Rani hanya bilang, dia sedang mengamati seseorang yang di sebutnya cowok “aquarium.” Awalnya sih Rani penasaran dengan bangunan gedung perpustakaan yang megah itu. Waktu itu aku juga diajak sama Rani untuk menghilangkan penasarannya. Tapi Rani jadi ketagihan. Aku sesekali juga mau datang. Tidak saban minggu kayak Rani. Aku lebih senang menyendiri di kamar untuk nyelesain cerpen atau …

Cerpen Remaja »

[31 Mei 2009 | No Comment | 2.274 views]

DI langit awan kumulus membentuk sebuah relief. Mataku sangat tertarik untuk mengamati dan pikiranku pun amat senang bermain imajinasi dengannya. Tak kuhiraukan teman-teman yang tertegun mendengarkan wejangan dari kepala sekolah. Kumulus putih bergerak pelan berangsur-angsur merubah rekaan relief yang sedari tadi bermain di alam pikiranku. Matahari nampaknya enggan menebarkan sengatannya sehingga tak terdengar satu pun dari kami berkeluh atau berkipas-kipasan. Tapi, ini juga hal langka menurutku, entah karena hari ini adalah hari terakhir petinggi sekolah memberikan wejangan buat kami. Entahlah…
Sudah satu jam, mungkin lebih. Kami berkumpul di tengah halaman sekolah, …

Cerpen Remaja »

[24 Mei 2009 | 2 Comments | 4.501 views]
Penyakit Ayah - Sebuah Cerpen Tentang Ayah

Aku mendengar bunyi klik. Aku melihat ayah menghidupkan lampu. Malam sudah larut, tapi ayah belum tidur. Ia mendekatiku. Raut wajahnya tampak gelisah. Aku menduga-duga, apalagi yang membuat ayah tak bisa tidur malam ini.
Ia duduk memperhatikan aku yang tengah mengerjakan tugas. “Belum tidur, Yah?” sapaku. Ia menggeleng pelan. “Aku buatkan ayah teh?” Aku menawarkan minuman yang paling disukai ayah.
“Boleh, tapi gulanya sedikit saja. Airnya hangat ya…” balas ayah.
Aku membiarkan ayah di ruang tamu sendirian. Akhir-akhir ini, ayah memang sering gelisah. Setiap saat, ia selalu mengeluh. Tidak hanya padaku, tetapi juga kepada …

Cerpen Remaja »

[17 Mei 2009 | One Comment | 3.295 views]

Langit masih menghitam siang itu, tapi Riyo tetap berjalan menapaki jalan yang masih basah karena hujan semalam. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap ada seseorang yang memanggilnya.
Malam itu ada pertengkaran yang begitu hebat hingga menciptakan suatu anak sungai yang mengalir deras di sudut mata si lesung pipit. Tangisnya tak bersuara tapi sangat memilukan. Hatinya berdarah dan terasa begitu perih.
“Put, andainya kamu tau kalau hatiku jauh lebih sakit. Ah…..” gumam Riyo dalam hati. Sesekali dia memandangi gadis manis di hadapannya, sesekali juga dia melemparkan pandangannya jauh dari wajah itu. Ada penyesalan …

Cerpen Remaja »

[10 Mei 2009 | 2 Comments | 1.793 views]

Kamu tahu gak siapa aku? Entahlah, aku juga tidak tahu siapa diriku. Aku heran kenapa aku masih bisa berjalan di muka bumi yang penuh cinta ini, binatang saja seperti kucing, anjing, beruang bahkan singa sekalipun sayang pada anaknya, tapi kenapa aku tiada merasakan itu, ke manakah rasa cinta yang ada dalam hatiku. Ahhh…… cinta sepertinya tidak mau singgah kepadaku, tak ada kudapati rasa cinta di dalam ruang sempit itu.
Entahlah sepertinya cinta melarikan diri dariku, malah sekarang aku hanyut dalam kekosongan, cinta membenciku, menaruh dendam padaku, cinta tak dapat kuraih lagi, …

Cerpen Remaja »

[3 Mei 2009 | 11 Comments | 4.562 views]

Senja itu indah. Kalimat itulah yang terus terpatri dalam benakku. Aku sangat menyukai senja. Karena senja itu indah…
Di sinilah aku sekarang. Menatap dalam diam ke arah jendela yang seolah dihiasi oleh pemandangan senja. Tak mengerti apakah harus senang atau sedih menatap senja. Senang karena aku masih bisa melihat senja, yang berarti Tuhan masih mengizinkan aku untuk bernafas. Sedih bila akhirnya ini adalah senja terakhir yang harus kupandangi.
Aku terus berharap masih ada senja-senja yang terus menantiku di hari esok. Rutinitas inilah yang kerap kulakukan bila senja datang menggantikan sore. Ada rasa …

Cerpen Remaja »

[26 Apr 2009 | 2 Comments | 2.553 views]

Semilir angin malam berhembus menembus ventilasi kamarku, aku termangu duduk seorang diri di atas tempat tidur yang menjadi teman setiaku. Perlahan tapi pasti, detik jam itu berputar meninggalkan waktu lalu, yang kian membelengguku dengan kenangan. Sebuah kenangan manis masih bertengger indah dalam ingatanku yang terluar, tentang kisah persahabatan.
Duduk di bangku SMA mungkin memang satu hal yang sangat berkesan dalam hidupku. Satu hal yang tak kan pernah luput dari ingatanku.
Berkenalan dengan Raya mungkin memang suatu kebetulan dalam hidupku, yang menjadi kebanggaanku kini, aku masih bisa berada di dekatnya, walaupun antara aku …

Cerpen Cinta »

[19 Apr 2009 | 15 Comments | 10.862 views]
Lelaki dan Rindu - Sebuah Cerpen

Tempat ini kian gelap. Apakah sudah malam? Ah, tidak. Hari belum malam. Tapi, mengapa hitam demikian padu di depan mataku? Aku terus berjalan. Berlari. Anehnya aku masih merasa tetap di tempat.
“Doni, lupakanlah aku.” Tiba-tiba suara itu terdengar. Sayup, pelan sekali. Namun kupastikan aku bisa menerka siapa pemilik suara merdu itu.
Ela, kau Ela kan? Wahai kekasihku, di mana dirimu? Telah sekian lama aku menanti, telah sekian lama pula aku mencari. Kau tahu? Kerinduanku padamu telah menumpuk dalam gudang-gudang waktu. Belum sempat kukirim karena kau hilang begitu saja. Ela, kembalilah. Aku begitu …

Cerpen Cinta »

[11 Apr 2009 | 4 Comments | 8.167 views]
Yang Kita Tahu

Hari ini hari yang baik untuk berpikir. Wira duduk di bangku taman, menelungkupkan kedua telapak tangannya yang saling menindih. Ia sedang menunggu seseorang. Masih banyak waktu untuk berpikir. Ia menunggu dengan tenang, tidak cemas atau bosan seperti kebanyakan orang. Ia menikmati waktu yang dimilikinya.
Yang ditungguinya adalah orang yang istimewa, tetapi bukan “istimewa” yang dimaksud remaja jaman sekarang, tapi istimewa apa adanya. Ingatkah kamu tentang teman masa kecilmu, yang selalu menungguimu jika kamu terlambat, memberikanmu sepotong kuenya walaupun ia sendiri lapar, ataupun membantumu bangkit ketika terjatuh dari sepeda, semua ia lakukan …

Cerpen Cinta »

[29 Mar 2009 | 47 Comments | 15.630 views]
Ghost OF Love - Sebuah Cerpen

“Vin, besok jangan lupa bawa catatan kimia, fisika, matematika, and biologi ya,’’ kata Adit.
‘’Iya deh,,iya..,’ ‘ sambungku.
‘’Eits,,wait !oh ya,catatan jepang juga ya..,’’ kata Adit lagi.
‘’Iya…,’’ jawabku singkat.
‘’Jangan lupa lho…,’’ katanya lagi.
‘’Iya Dit….iya…,’’ jawabku singkat lalu kututup HP-ku. Habisnya,temanku yang satu ini paling recok deh. Kalau bicara sama dia,aku bisa gondokan nih…tapi,dia itu teman aku yang paling baik lho. Ada satu lagi temanku yang namanya Rian, hubungan kami bertiga sangat akrab.
Esoknya, saat istirahat,aku dan Rian pergi ke kantin untuk makan. Beberapa saat kemudian Adit tidak muncul juga. Kami berdua keheranan, padahal …

Cerpen Cinta »

[22 Mar 2009 | 43 Comments | 19.697 views]
Persahabatanku Hancur Cuma Karena Cowok

Sekarang aku sudah di SMK dan akupun mempunyai teman baru. Tapi semua teman aku tidak   satupun yang bisa jadi teman dekatku. Sesudah tiga bulan, aku di sekolah itu akhirnya akupun memiliki teman yang aku percaya  dan aku anggap dia sebagai teman curhat. Dan aku pun percaya sama dia.
Sebelumnya kami sama-sama tidak punya cowok alias kami jomblo.
Persahabatan aku sama dia (teman dekat aku namanya Yana) sangat akrab. Dia sering curhat tentang keluarganya ama aku. Begitu juga dengan aku. Kami sama-sama mengetahui tentang keluarga kami berdua. Aku dan Yana pun berjanji tidak …

Cerpen Remaja »

[15 Mar 2009 | 2 Comments | 5.970 views]
Sahabat, Apa Kabar? - Sebuah Cerpen

“Anak-anak, hari ini kita akan belajar menulis dan menceritakan pengalaman yang berkesan bagi kalian, baik itu pengalaman yang menyedihkan, menyenangkan maupun yang lucu. Ibu akan minta kalian menulisnya di dalam buku latihan,” kata Bu Fani panjang lebar. Beliau adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas kami, IX B.
Hari ini Bu Fani meminta kami menulis pengalaman yang berkesan di hati. Tapi aku masih bingung mau menulis apa. Teman-teman sudah mulai menulis, pena menari-menari di atas kertas mereka. Kelas hening. Semua khusuk menulis pengalaman masing-masing. Aku terus mencoba mengingat-ingat kejadian atau …