Articles in the Cerpen Remaja Category
Cerpen Remaja »
Angin dingin masih menyergap pakaianku ketika kuputuskan untuk berjalan kaki menuju Stasiun Lempuyangan. Sepatu hak tinggi lama kelamaan membuat kaki ini semakin nyeri, sementara handphone tak henti-hentinya bergetar menunjukkan tumpukan pesan singkat masuk. Aku tak begitu peduli, termasuk ketika beberapa bapak penarik beca yang iseng-iseng menyapaku, aku hanya mengangguk. Kadang tak kuanggap sama sekali. Tapi sayup-sayup kudengar pembicaraan mereka setelah aku melintas, pasti tentang aku.
Tak ada yang berubah dari hawa pembuka hari di Stasiun Lempuyangan. Aku memilih lewat jalan persimpangan pintu kereta untuk menghindari peron. Ya, karena aku tak membeli …
Cerpen Remaja »
Kakiku menyusuri trotoar jalan yang sempit. Pagi itu semua aktivitas dimulai, di pagi Senin yang melelahkan. Hari di mana aku harus mengumpulkan tugas kimia dan fisika, yang di dalamnya terdapat banyak rumus yang tak kumengerti. Serta tak luput hafalan Bahasa Prancis, yang jelas tujuan pembelajarannya (mungkin berguna bagi mereka yang bisa ke Prancis dan bertemu Zinedine Zidane). Tapi pelajaran itu sungguh sangat membosankan bagi orang sepertiku. Karena untuk bermimpi pergi ke negara se-Asia saja aku tak sanggup, apalagi sampai ke benua Eropa yang di dalamnya terdapat banyak ilmuwan terkenal itu.
Berbeda …
Cerpen Remaja »
Matahari tetap terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat, walau kini aku telah berumur dua puluh dua tahun. Matahari boleh tetap bergulir dari timur ke barat, tapi perjalanan hidupku tak mampu bergulir tetap. Perubahan demi perubahan menjadi warna dalam hidupku. Si Bujang Senang.
“Puas-puaskan masa mudamu. Agar kelak, tidak menjadi duri dalam keluarga.” Kata-kata mendiang ibuku yang telah lama meninggal. Masih kental di ingatanku. Keinginan berumah tangga pun timbul tenggelam, bagai sabut yang dipermainkan gelombang pasang di lautan lepas.
“Kamu kurang apa lagi, Juv? Tampang punya. Pekerjaan oke. Umur pun sudah …
Cerpen Remaja »
Sketsa rembulan di angkasa raya menampakkan senyum bulanannya kembali. Aku, Gio, kembali memainkan ujung bolpoin untuk menenangkan jiwaku yang baru saja di hantam gelombang terbesar yang pernah ada. Sudut mataku mengatakan pada dunia bahwa aku perlu untuk menata hati yang pernah kacau tak karuan. Namun, akal sehatku menentang itu.
Kini aku tengah duduk sendiri di dalam kesepian menunggu putusan antara perdebatan hati dan pikiran. Mungkin untuk kali ini aku harus mengikuti pikiranku yang memang sedang kacau. Menurutku, buat apa kita terus-terusan menata hati kalau nyatanya akan kacau kembali seperti sediakala. Biarkan …
Cerpen Remaja »
Enam tahun lalu…
Anna Nurul Puspita gadis manis yang cerdas, ceria, sedikit nakal namun punya seribu impian, salah satu impiannnya yaitu kuliah ke luar negeri di Sorbonne University dan jadi psikolog terkenal di Indonesia. Demi impiannya ini Anna mati-matian belajar, ia ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di negeri yang kata orang adalah negeri terindah yaitu Prancis. Anna telah melewati ujian untuk mendapat beasiswa namun hasilnya baru akan keluar sebelum UAN diselenggarakan. Setiap hari Anna menunggu kabar dari pihak penyelenggara beasiswa tapi tak kunjung ada kabar, dia sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa …
Cerpen Remaja »
RANI sudah dua bulan ini rajin banget pergi ke perpustakaan umum di kotaku. Sekitar jam delapan pagi, di hari minggu, pasti dia sudah bersiap sedia pergi ke sana. Aku sendiri tak tahu mengapa. Rani hanya bilang, dia sedang mengamati seseorang yang di sebutnya cowok “aquarium.” Awalnya sih Rani penasaran dengan bangunan gedung perpustakaan yang megah itu. Waktu itu aku juga diajak sama Rani untuk menghilangkan penasarannya. Tapi Rani jadi ketagihan. Aku sesekali juga mau datang. Tidak saban minggu kayak Rani. Aku lebih senang menyendiri di kamar untuk nyelesain cerpen atau …
Cerpen Remaja »
DI langit awan kumulus membentuk sebuah relief. Mataku sangat tertarik untuk mengamati dan pikiranku pun amat senang bermain imajinasi dengannya. Tak kuhiraukan teman-teman yang tertegun mendengarkan wejangan dari kepala sekolah. Kumulus putih bergerak pelan berangsur-angsur merubah rekaan relief yang sedari tadi bermain di alam pikiranku. Matahari nampaknya enggan menebarkan sengatannya sehingga tak terdengar satu pun dari kami berkeluh atau berkipas-kipasan. Tapi, ini juga hal langka menurutku, entah karena hari ini adalah hari terakhir petinggi sekolah memberikan wejangan buat kami. Entahlah…
Sudah satu jam, mungkin lebih. Kami berkumpul di tengah halaman sekolah, …
Cerpen Remaja »
Aku mendengar bunyi klik. Aku melihat ayah menghidupkan lampu. Malam sudah larut, tapi ayah belum tidur. Ia mendekatiku. Raut wajahnya tampak gelisah. Aku menduga-duga, apalagi yang membuat ayah tak bisa tidur malam ini.
Ia duduk memperhatikan aku yang tengah mengerjakan tugas. “Belum tidur, Yah?” sapaku. Ia menggeleng pelan. “Aku buatkan ayah teh?” Aku menawarkan minuman yang paling disukai ayah.
“Boleh, tapi gulanya sedikit saja. Airnya hangat ya…” balas ayah.
Aku membiarkan ayah di ruang tamu sendirian. Akhir-akhir ini, ayah memang sering gelisah. Setiap saat, ia selalu mengeluh. Tidak hanya padaku, tetapi juga kepada …
Cerpen Remaja »
Langit masih menghitam siang itu, tapi Riyo tetap berjalan menapaki jalan yang masih basah karena hujan semalam. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap ada seseorang yang memanggilnya.
Malam itu ada pertengkaran yang begitu hebat hingga menciptakan suatu anak sungai yang mengalir deras di sudut mata si lesung pipit. Tangisnya tak bersuara tapi sangat memilukan. Hatinya berdarah dan terasa begitu perih.
“Put, andainya kamu tau kalau hatiku jauh lebih sakit. Ah…..” gumam Riyo dalam hati. Sesekali dia memandangi gadis manis di hadapannya, sesekali juga dia melemparkan pandangannya jauh dari wajah itu. Ada penyesalan …
Cerpen Remaja »
Kamu tahu gak siapa aku? Entahlah, aku juga tidak tahu siapa diriku. Aku heran kenapa aku masih bisa berjalan di muka bumi yang penuh cinta ini, binatang saja seperti kucing, anjing, beruang bahkan singa sekalipun sayang pada anaknya, tapi kenapa aku tiada merasakan itu, ke manakah rasa cinta yang ada dalam hatiku. Ahhh…… cinta sepertinya tidak mau singgah kepadaku, tak ada kudapati rasa cinta di dalam ruang sempit itu.
Entahlah sepertinya cinta melarikan diri dariku, malah sekarang aku hanyut dalam kekosongan, cinta membenciku, menaruh dendam padaku, cinta tak dapat kuraih lagi, …
Cerpen Remaja »
Senja itu indah. Kalimat itulah yang terus terpatri dalam benakku. Aku sangat menyukai senja. Karena senja itu indah…
Di sinilah aku sekarang. Menatap dalam diam ke arah jendela yang seolah dihiasi oleh pemandangan senja. Tak mengerti apakah harus senang atau sedih menatap senja. Senang karena aku masih bisa melihat senja, yang berarti Tuhan masih mengizinkan aku untuk bernafas. Sedih bila akhirnya ini adalah senja terakhir yang harus kupandangi.
Aku terus berharap masih ada senja-senja yang terus menantiku di hari esok. Rutinitas inilah yang kerap kulakukan bila senja datang menggantikan sore. Ada rasa …
Cerpen Remaja »
Semilir angin malam berhembus menembus ventilasi kamarku, aku termangu duduk seorang diri di atas tempat tidur yang menjadi teman setiaku. Perlahan tapi pasti, detik jam itu berputar meninggalkan waktu lalu, yang kian membelengguku dengan kenangan. Sebuah kenangan manis masih bertengger indah dalam ingatanku yang terluar, tentang kisah persahabatan.
Duduk di bangku SMA mungkin memang satu hal yang sangat berkesan dalam hidupku. Satu hal yang tak kan pernah luput dari ingatanku.
Berkenalan dengan Raya mungkin memang suatu kebetulan dalam hidupku, yang menjadi kebanggaanku kini, aku masih bisa berada di dekatnya, walaupun antara aku …




