Home » Archive

Articles in the Cerpen Remaja Category

Cerpen Remaja »

[15 Nop 2009 | 3 Comments | 2.059 views]
Kisah Kecewa Mesin Ketik Tua

Kenalkan aku adalah mesin ketik. Suatu alat yang digunakan untuk mengetik. Di tubuhku banyak terdapat komponen-komponen yang sangat penting, di antaranya pita karbon, tuts dan banyak lagi onderdil lain yang namanya tidak kukenali.
Apabila salah satu tuts ditekan maka aku akan memukul kertas yang telah dilapisi pita karbon dan tercetaklah angka, huruf atau simbol yang diinginkan.
Aku pertama kali dipresentasikan oleh Cristopher Sholes, lelaki jenius berkebangsaan Amerika. Aku sendiri tidak mengetahui bagaimana Sholes menemukan aku. Apakah benar-benar dia yang menciptakan aku, atau dia menemukan hasil ciptaan orang lain yang tercecer di jalanan? …

Cerpen Remaja »

[8 Nop 2009 | 4 Comments | 2.092 views]
Aku dan Sashi Chan

Aku benar-benar linglung. Baru hari pertamaku belajar di SMU Darma, aku harus duduk bersebelahan dengan Sashi, salah satu partikel berkulit putih yang asli menggunakan logat Tokyo ketika berkenalan denganku. Awalnya aku bingung, tapi untungnya ia sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia, walau terpatah-patah dan membuatku ingin tahu dia lebih lanjut.
“Hai, Shasi. nice to meet you,” sungguh aku tertawa geli saat bibir ini mengucapkan kata itu. Shasi tersenyum dan membalas jabat tanganku dengan erat.
“Yoroshiku onegaishimasu,” Sashi merapatkan telapak tangannya. Aku jadi kebingungan. “Mohon bimbingannya,” ulangnya. Oh, aku mengerti dan mengangguk. Ah, benar-benar …

Cerpen Cinta »

[25 Okt 2009 | 18 Comments | 7.234 views]

Sepertinya cuaca pagi itu agak mendung, membuat semua aktivitas yang akan dilakukan menjadi kacau sedikit. Gemuruh petir terasa menggetarkan tanah jelas di relung hati setiap insan. Langit yang memerah terus mengeluarkan tetesan air dari perutnya, dari pagi hingga sore. Saat itu juga tampak seorang gadis berseragam SMA berteduh di halte bis sambil menunggu hujan reda, ia mengambil sebuah handphone Nokia di tasnya. Ditulisnya sebuah pesan singkat kepada seseorang. Tidak lama kemudian sebuah mobil Mercedes hitam mendekati gadis itu, terlihat seseorang berpakaian polos dan sederhana.
“Kenapa lama sekali, aku seperti di dalam …

Cerpen Remaja »

[18 Okt 2009 | No Comment | 1.152 views]

Oleh: Azizah Masdar
Rabu yang indah di kelas kenangan. Kenapa aku katakan indah? Kenapa kukatakan kenangan? Karena pada pada hari Rabu itu hanya memuat mata pelajaran yang berbau sosial dan budaya. Di kelas ini membuatku selalu terkenang tentang rangkuman terumus sendiri di benakku, yakni ‘WARNA’.
Aku bukanlah siswa yang jago mata pelajaran sosial, juga bukan seorang yang bercita-cita menjadi budayawan. Kelas di hari Rabu itu berkesan oleh kehadiran sosok siswi misterius di bangku sebelahku. Minggu ke dua ketika aku telah menetapkan bahwa bangku urutan pertama dan kedua dari sebelah kiri sebagai tempat …

Cerpen Remaja »

[4 Okt 2009 | No Comment | 1.714 views]
Lebaran Pertama

Suara motor Bang Yasir mengganggu keasikanku menonton televisi. Klaksonnya menjerit-jerit sengaja dibunyikan seperti sedang menari-nari mengejekku. Aku tahu kalau Bang Yasir sudah mendapatkan tiket untuk pulang mudik ke Rantau Prapat.
“Ayolah Cahaya, siapkan bajumu, besok jam tujuh kita berangkat.”
“Saya tak bisa pulang, Bang. Tak ada libur kerja.” Air mataku meleleh terasa hangat, tahun  ini memang sudah na-sibku tidak mudik.
“Meliburkan diri saja, gitu aja koq repot. Kalau gak boleh libur, berhentilah!”
“Berhenti!!!”
Sejenak kurenungi kata-kata Bang Yasir. Berhenti kerja, ah tidak! Siapa yang akan membiaya hidupku. Kerja ini saja susah untuk kudapatkan, sejak menganggur …

Cerpen Hari Ibu »

[13 Sep 2009 | 11 Comments | 2.872 views]
Meniti Jejak Ibu

Hujan belum deras namun angin sangat kencang. Dinginpun mulai menusuk tulang. Tapi cuaca ini tidak mempengaruhiku untuk segera meninggalkan jendela kamarku. Aku senang berdiri di sini. Mengamati banyak hal. Mobil-mobil yang sibuk berpacu di jalan raya sebelah utara, perkampungan kumuh yang sangat kontras dengan lingkungan kami di sebelah timur, juga kanak-kanak yang sibuk berlari-lari di jalan depan rumahku. Dari jendela ini aku bisa menyaksikan semuanya. Termasuk mengulang kembali memori setahun yang lalu.
Seperti saat ini, Ramadan tahun lalu pun aku suka berdiri di jendela ini sambil menunggu waktu berbuka. Tentu aku …

Cerpen Remaja »

[13 Sep 2009 | One Comment | 1.630 views]

Matahari sore ini tampak bersembunyi di balik awan putih. Angin bertiup sepoi-sepoi menyejukkan kulit. Aku sedang menyusun cendol, rumput laut, potongan kecil nanas dan papaya, juga agar-agar dan cincau ke masing-masing toples. Tak lupa air gula dan santan. Yah, ini hari pertamaku berjualan di pasar kaget Ramadan, pasar yang menjual aneka makanan untuk berbuka, sejak seminggu yang lalu puasa. Berkat anjuran Dik Retno, perempuan anggun berjilbab yang tinggal di sebelah rumah kontrakanku. Usianya terpaut beberapa tahun di bawahku. Tetapi dialah satu-satunya perempuan yang aku bisa jadikan tempat curahan hatiku.
Bermula di …

Cerpen Remaja »

[23 Agu 2009 | No Comment | 1.188 views]

Cuaca semakin hari semakin tak bersahabat. Aku pikir cuaca akan terus seperti pertempuran antara Israel dan Palestina, gelap, kelam, dan gemuruh-gemuruh kecil yang menembus atmosfer bumi. Tapi, karena pusat tata surya tak mampu lagi membakar dirinya sendiri, makanya awan yang menyelimuti bumi pun diusirnya jauh-jauh. Awan hitam mulai berlari menghindar. Tanpa minta izin lagi kepada penghuni bumi, bola api besar itu mengobarkan panasnya.
Aku datang pagi-pagi sekali. Embun yang menusuk tulang pun belum usai menebarkan semerbak bau bunga putih mungil ini. Ketika aku masuk dalam kelas, terlihat tiga orang temanku yang …

Cerpen Remaja »

[16 Agu 2009 | No Comment | 1.705 views]

Tatapku tergantung di awang, menerobos ke sela-sela angan yang panjang. Bayangan mimpi sebuah masa depan. Masa depan yang tak pernah dimengerti oleh siapapun. Sebab terlalu abstrak. Sampai aku membangun sebuah tirani kokoh dalam hidupku. Mengharamkan siapa saja masuk menjelajahinya, bahkan sebuah kata membosankan “menikah” sekalipun. Sampai taman hidupku menjadi dunia indah, seperti yang kuidam-idamkan sejak awal aku menggeluti dunia pujangga. Aku tak peduli dunia menatapku bingung. Bahkan tak jarang menuding aku sok hebat, mengejar karir berlebihan. Menunda-nunda menyempurnakan agama.
Aku tak ingin frustasi pada waktu. Kupikir waktu sudah cukup tepat mengantarkan …

Cerpen Cinta »

[9 Agu 2009 | 14 Comments | 3.654 views]

Aku hanya seorang penulis pemula. Apakah serangkaian kata-kata tanpa makna akan mungkin merubah cerita ini hingga menjadi cerita yang berakhir bahagia?
Pelangi itu indah karena mempunyai tujuh warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Tetapi hidupku lebih indah. Sebab, aku mempunyai Intan. Kehadirannya bagaikan spektrum sang surya yang memberiku berjuta warna.
Nama kecilnya Intan. Pernahkah kau dengar kisah cinta pertamanya dengan aku? Ah, kau pasti berfikir kisah kami seperti Sunny yang diperankan Bunga Citra Lestari. Atau kisah Isabella dari negeri jiran Malaysia. Atau juga kisah Manohara. Ah, tidak, saudara. Aku …

Cerpen Remaja »

[2 Agu 2009 | 4 Comments | 4.004 views]

KEVIN Danubrata melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki taman kota. Matanya menatap tajam ke depan. Langkahnya yang pasti menunjukkan dia sudah mengenal taman ini dengan baik. Tanpa tergesa-gesa dia  menuju salah satu bangku yang terdapat di bawah pohon. Bangku itu menghadap ke air mancur yang banyak terdapat di taman itu.
Di bangku itu telah duduk seorang wanita. Wanita itu berkulit putih, berambut hitam panjang, dan cantik. “Hai, Arya. Sudah nunggu lama?” sapa Kevin tenang.
“Duduklah,” balas si wanita tanpa menatap Kevin sama sekali. Matanya menatap kosong dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Alis Kevin naik. …

Cerpen Remaja »

[26 Jul 2009 | 18 Comments | 7.522 views]
Cinta Pertama

Namun perasaan ragu selalu mendera hatiku. Akankah Adit punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mengenal baik Adit. Aku setahun lebih tua darinya. Status sosial keluargaku dan keluarga Adit bagaikan langit dan bumi. Ayah Adit seorang pengusaha sukses dan ibunya seorang guru. Sedangkan keluargaku adalah keluarga termiskin. Ayah tiada sejak aku masih kelas 1 SD. Ibuku kemudian berjualan kue-kue untuk menghidupi kami yang sehari hanya menghasilkan uang sekitar limabelasan ribu. Aku juga sering membantu menjualkan kue-kue ibuku ke sekolah. Namun semua itu belum cukup untuk membiayai ibu dan kami, empat …