Home » Archive

Articles in the Cerpen Remaja Category

Cerpen Remaja »

[31 Jan 2010 | 14 Comments | 12.150 views]
Antara Aku dan Bintang

Aku sudah lama mengenal Bintang, lama sekali, sejak SMP, eh SD, ah atau mungkin sejak aku lahir, karena Bintang selalu ada untukku, selalu menemani aku, tempat aku mengadu, tertawa bersama bahkan saat aku ada masalah Bintang-lah yang pertama kali tahu.
Hingga suatu hari Bintang harus pergi, dia lulus SMPTN dengan angka luar biasa. Itulah yang aku kagumi dari Bintang. Dia pintar, cakep dan selalu perhatian, dan dia tak pernah bisa melihatku menangis. Dia telah menjadi bagian hidupku. Mulanya aku senang karena Bintang berhasil lolos di Fakultas Psikologi yang sangat diimpikannya. Tapi …

Cerpen Remaja »

[24 Jan 2010 | 15 Comments | 11.548 views]
Bunga yang Berembun : Cerpen Sedih

Gadis itu melangkah dengan langkah memburu. Wahanya tampak pucat. Kantung matanya terlihat cekung dengan rambut yang dibiarkan kering dan tegerai kusut. Dia terus melangkah menyusuri koridor kampus dengan membawa beberapa buku tebal di tangan. Dia tak menoleh, hanya menunduk berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang kian memucat. Seperti biasa, saat di dalam kelas, dia selalu memilih tempat duduk di pojok.
“Bunga, wajahmu pucat sekali?” Sinta, sahabat barunya itu menoleh ke belakang. Baru dua minggu mereka saling kenal. Tapi Sinta seperti telah mengenal dekat sahabat barunya itu. Dia bahkan begitu peduli terhadap Bunga.
“Aku …

Cerpen Remaja »

[17 Jan 2010 | 7 Comments | 7.254 views]
Sepasang Mata Cahaya

AKU tak bisa mengendalikan lagi laju kendaraanku. Terdengar suara ban mobilku mendecit-decit. Orang-orang memekik. Berpasang mata seakan ditarik pada satu titik. Aku terkejut.  Mobilku menghantam sesosok laki-laki yang melintas.Sesosok tubuh itu pun terkapar di trotoar, mengejang menahan sakit. Sebelah tangannya berusaha keras tetap terkepal. Genangan air hujan yang menadah kepalanya berangsur merah saat tangan lelaki itu akhirnya rebah.
Bumi seakan berhenti bernafas. Hanya sesaat sebelum kembali riuh. Teriakan. Jeritan klakson. Titik-titik air yang meluncur serentak seperti derap sepatu tentara yang melangkah dengan kemarahan. Secarik kertas pelan-pelan kuyup oleh rintik hujan yang …

Cerpen Remaja »

[21 Des 2009 | 6 Comments | 4.649 views]

Pagi ini tak seperti pagi-pagi kemarin. Matahari sudah tak enggan lagi bersinar dengan kecerahan yang sempurna. Sudah tak ada lagi awan hitam yang menyembunyikannya. Yang ada justru awan-awan putih seperti kapas yang bergerak lamban ditiup angin sepoi. Dengan background langit biru.
Burung-burung pun seolah ikut berperan. Suara-suara cicit yang terdengar bukannya membuat berisik melainkan seperti melodi yang akan menjadi pembuka kisah hari ini. Ia terbang kesana-kemari, bertengger dari satu pohon besar ke pohon besar lainnya. Saling menyenandungkan lagu yang hanya mereka  yang mengerti artinya. Merekalah satu-satunya yang membuat tempat ini tak …

Cerpen Remaja »

[13 Des 2009 | One Comment | 2.300 views]

Ia melihat matanya berkilauan dengan goresan kuas yang melengkung keemasan, menguatkan ketegasan di sana. Mata berwarna kecoklatan dan alis yang berjejer rapi. Perona pipi melekat di kulit wajahnya yang kuning langsat, juga lipstik merah muda yang dipoles rapi di bibirnya yang merekah lembut.
Ia tersenyum, hidungnya yang tak terlalu mancung cukup membuatnya merasa bersyukur bahwa ketika ia bercermin seperti sekarang, ia merasakan keajaiban itu, keajaiban dari Sang Pencipta yang selalu membuatnya percaya diri.
Lalu anting-anting emas berukiran itu ia kenakan di kedua telinganya maka terbersit pula kenangannya bersama perkumpulan Tari Tara, perkumpulan …

Cerpen Cinta »

[6 Des 2009 | 35 Comments | 18.888 views]
Senyuman Terindah dan Terakhir

Syla amila, itulah nama sahabat yang selalu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat mengenal Syla, dialah sosok jiwa yang kukagumi. Ia selalu tegar menghadapi cobaan yang menerpanya. Se-nyumannya yang indah selalu bisa meluluhkan hatiku saat aku sedang menasehatinya. Nilai rapornya tidak pernah merah, dan dialah seorang yang dianugerahi kecerdasan oleh Al-Wahhab.
Namun, waktu untukku dapat menemuinya dalam keadaan sadar semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang telah bertahun-tahun menyerangnya, membuat Syla lebih sering berada di ruang yang penuh dengan aroma obat-obatan dan Syla tidak lagi melakukan aktivitas yang biasa dilakukan anak seusiaku. Penyakit yang dialami …

Cerpen Remaja »

[22 Nop 2009 | 3 Comments | 4.379 views]

Bulan itu memancar dengan warna keemasan. Aku tertegun menatapnya. Sungguh mempesona. Malam yang kelam menjadi indah dan menggairahkan. Samar-samar kulihat seorang gadis di bulan itu. Ah, ternyata dia kekasihku. Aku tersenyum memandangnya yang terlihat tengah asyik melenggak-lenggokkan tubuh eloknya di bulan itu. Matanya yang bening menatapku lekat. Jemarinya yang lentik melambai-lambai ke arahku dengan kerincing gelang-gelang mutiara.
“Johan, kenapa melamun saja?” tiba-tiba seorang gadis menegurku.
Aku menoleh menatapnya. Aku heran. Entah dari mana datangnya dia. Tahu-tahu dia telah berada di sampingku.
“Kamu  siapa?” tanyaku takjub. Gadis ini sungguh rupawan. Lebih cantik dari kekasihku …

Cerpen Remaja »

[15 Nop 2009 | 9 Comments | 4.481 views]
Kisah Kecewa Mesin Ketik Tua

Kenalkan aku adalah mesin ketik. Suatu alat yang digunakan untuk mengetik. Di tubuhku banyak terdapat komponen-komponen yang sangat penting, di antaranya pita karbon, tuts dan banyak lagi onderdil lain yang namanya tidak kukenali.
Apabila salah satu tuts ditekan maka aku akan memukul kertas yang telah dilapisi pita karbon dan tercetaklah angka, huruf atau simbol yang diinginkan.
Aku pertama kali dipresentasikan oleh Cristopher Sholes, lelaki jenius berkebangsaan Amerika. Aku sendiri tidak mengetahui bagaimana Sholes menemukan aku. Apakah benar-benar dia yang menciptakan aku, atau dia menemukan hasil ciptaan orang lain yang tercecer di jalanan? …

Cerpen Remaja »

[8 Nop 2009 | 7 Comments | 3.816 views]
Aku dan Sashi Chan

Aku benar-benar linglung. Baru hari pertamaku belajar di SMU Darma, aku harus duduk bersebelahan dengan Sashi, salah satu partikel berkulit putih yang asli menggunakan logat Tokyo ketika berkenalan denganku. Awalnya aku bingung, tapi untungnya ia sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia, walau terpatah-patah dan membuatku ingin tahu dia lebih lanjut.
“Hai, Shasi. nice to meet you,” sungguh aku tertawa geli saat bibir ini mengucapkan kata itu. Shasi tersenyum dan membalas jabat tanganku dengan erat.
“Yoroshiku onegaishimasu,” Sashi merapatkan telapak tangannya. Aku jadi kebingungan. “Mohon bimbingannya,” ulangnya. Oh, aku mengerti dan mengangguk. Ah, benar-benar …

Cerpen Cinta »

[25 Okt 2009 | 32 Comments | 15.038 views]

Sepertinya cuaca pagi itu agak mendung, membuat semua aktivitas yang akan dilakukan menjadi kacau sedikit. Gemuruh petir terasa menggetarkan tanah jelas di relung hati setiap insan. Langit yang memerah terus mengeluarkan tetesan air dari perutnya, dari pagi hingga sore. Saat itu juga tampak seorang gadis berseragam SMA berteduh di halte bis sambil menunggu hujan reda, ia mengambil sebuah handphone Nokia di tasnya. Ditulisnya sebuah pesan singkat kepada seseorang. Tidak lama kemudian sebuah mobil Mercedes hitam mendekati gadis itu, terlihat seseorang berpakaian polos dan sederhana.
“Kenapa lama sekali, aku seperti di dalam …

Cerpen Remaja »

[18 Okt 2009 | 2 Comments | 2.202 views]

Oleh: Azizah Masdar
Rabu yang indah di kelas kenangan. Kenapa aku katakan indah? Kenapa kukatakan kenangan? Karena pada pada hari Rabu itu hanya memuat mata pelajaran yang berbau sosial dan budaya. Di kelas ini membuatku selalu terkenang tentang rangkuman terumus sendiri di benakku, yakni ‘WARNA’.
Aku bukanlah siswa yang jago mata pelajaran sosial, juga bukan seorang yang bercita-cita menjadi budayawan. Kelas di hari Rabu itu berkesan oleh kehadiran sosok siswi misterius di bangku sebelahku. Minggu ke dua ketika aku telah menetapkan bahwa bangku urutan pertama dan kedua dari sebelah kiri sebagai tempat …

Cerpen Remaja »

[4 Okt 2009 | No Comment | 3.947 views]
Lebaran Pertama

Suara motor Bang Yasir mengganggu keasikanku menonton televisi. Klaksonnya menjerit-jerit sengaja dibunyikan seperti sedang menari-nari mengejekku. Aku tahu kalau Bang Yasir sudah mendapatkan tiket untuk pulang mudik ke Rantau Prapat.
“Ayolah Cahaya, siapkan bajumu, besok jam tujuh kita berangkat.”
“Saya tak bisa pulang, Bang. Tak ada libur kerja.” Air mataku meleleh terasa hangat, tahun  ini memang sudah na-sibku tidak mudik.
“Meliburkan diri saja, gitu aja koq repot. Kalau gak boleh libur, berhentilah!”
“Berhenti!!!”
Sejenak kurenungi kata-kata Bang Yasir. Berhenti kerja, ah tidak! Siapa yang akan membiaya hidupku. Kerja ini saja susah untuk kudapatkan, sejak menganggur …