Articles in the Bengkel Sastra Category
Bengkel Sastra »
PERNAHKAH adik-adik mendengar istilah “sastra serius” dan “sastra populer”? Saya yakin, yang menyukai dunia sastra, pasti pernah mendengarnya, meski mungkin tak terlalu menggubrisnya. Ya, barangkali saja, karena kita tak mau pusing-pusing dengan berbagai istilah sastra, tapi yang terpenting bagaimana bisa terus menulis dan berkarya.
Begitukah?Tapi, tunggu dulu. Begitu kita masuk ke rimba raya sastra yang demikian luas ini, maka konsekuensinya kita juga harus bersiap untuk mau masuk dalam berbagai istilah yang akan menyertainya. Dengan begitu, kelak kita dapat tahu, di mana sesungguhnya posisi karya kita dalam konstelasi sastra (di) Indonesia ini.Dua …
Bengkel Sastra »
SEJAK lama, banyak orang meyakini bahwa karya sastra mengandung nilai-nilai moral. Ada amanat yang hendak disuguhkan kepada pembaca. Pendapat ini, secara tidak langsung, hendak menempatkan karya sastra dalam posisi yang tinggi. Dan tentu, adik-adik juga pernah mendengar, bahwa sastra juga kerap dideretkan dengan filsafat dan agama. Sebab ketiganya, sama-sama berbicara tentang manusia (meski dengan caranya masing-masing).
Akan tetapi, setidaknya ada dua problem yang kemudian muncul. Pertama, dengan pendapat seperti ini, karya sastra seolah dituntut untuk menyampaikan yang “baik-baik” saja menurut ukuran moral. Sehingga, banyak juga karya sastra yang lahir normatif, kaku, …
Bengkel Sastra »
“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”
(Barbara Tuchman).
BERAPA banyak buku yang adik-adik baca dalam sepekan? Berapa banyak koleksi buku yang bertengger di rak-rak buku kita? Seberapa pentingkah sebuah buku bagi kita dibanding dengan barang yang lain? Pernahkah kita merasa sangat kehilangan, karena sebuah buku kita dipinjam teman dan tak kunjung di-kembalikan?
Hmm, itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkhusus bagi adik-adik yang bercita-cita menjadi penulis. Ingat, sebaiknya tidak bercita-cita jadi penulis jika minat membaca kita rendah. Minat terhadap buku rendah. Sebab, …
Bengkel Sastra »
Chairil Anwar bilang, sastra itu sebuah dunia. Saya tambahkan, sebuah dunia yang penuh dengan kemungkinan. Sebagai sebuah dunia, maka ia memiliki penghuni di dalamnya, yakni para tokoh cerita. Supaya para penghuni tersebut bisa hidup, maka ia memerlukan tempat, sebuah latar di mana ia bisa menjalankan konflik-konflik Jadi, selain unsur tokoh dan plot, unsur latar (setting) menjadi tak kalah penting dalam karya fiksi.
Adik-adik, setidaknya ada tiga unsur pokok yang dapat membedakan latar: Latar Tempat, Latar Waktu, dan Latar Sosial. Latar Tempat, jelas terkait dengan tempat-tempat tertentu yang dipergunakan oleh tokoh cerita.
Sebagaimana …
Bengkel Sastra »
SETIAP orang pasti pernah memiliki “pengalaman puitik.” Sebab, setiap orang pasti pernah melalui berbagai “perjalanan bathin” dalam kehidupan sehari-hari. Ya, dalam proses “perjalanan bathin” itulah, apa yang disebut “pengalaman puitik” itu terlahir. Namun, rupanya, tidak setiap orang yang menyadari bahwa dalam dirinya, dalam bathinnya, telah terpatri berbagai “pengalaman puitik” itu. Tapi, bagi para penulis fiksi (terutama penulis puisi/penyair), “pengalaman puitik” ini jadi kebutuhan primer mereka.
Yang jadi soal kemudian adalah, bagaimana cara kita mengetahui bahwa kita telah menemukan “pengalaman puitik” itu? Sebetulnya, tidak sulit mendeteksinya. Kuncinya, mau atau tidak kita membuka …
Bengkel Sastra »
TEMA pembahasan “bengkel sastra” kita minggu ini, sebenarnya tema yang sangat mendasar. Karena, sebelum adik-adik (atau juga siapa pun) yang hendak mulai masuk ke dunia sastra, pasti dihantui oleh pertanyaan besar tentang, apa sih gunanya sastra itu? Pertanyaan itu muncul disebabkan oleh, kita cenderung melihat sesuatu dari kegunaannya yang bersifat konkret (nyata dan dapat dilihat langsung oleh mata). Sementara sastra, kegunaannya bersifat sebaliknya; abstrak.
Kalau olahraga, adik-adik pasti tahu kegunaannya, yakni untuk membuat tubuh kita menjadi sehat dan bugar. Tapi sastra, baik dalam proses membaca atau proses menulis sastra, paling kita …
Bengkel Sastra »
ADIK-adik pencita sastra, tiga minggu lalu kita membahas tentang salah satu unsur terpenting dalam sebuah cerita fiksi, yakni plot. Plot yang menarik biasanya terdapat setidaknya tiga unsur di dalamnya. Dua unsur sudah kita bahas pada dua minggu yang lalu berturut-turut, yakni konflik dan suspense. Nah, kini ada satu unsur lagi yang dapat membuat plot dalam karya kita menjadi kuat dan digemari pembaca. Apa itu? Surprise, atau kejutan.
Sebuah karya yang berhasil, dan menarik untuk dibaca adalah karya yang menghadirkan berbagai surprise. Sebab, setiap pembaca—sebagaimana juga telah menjadi sifat semua orang—memang menyukai …
Bengkel Sastra »
PERNAHKAH adik-adik membaca sebuah cerita fiksi yang terus-menerus membangkitkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan kisahnya? Jika pernah, inilah salah satu ciri dari sebuah karya yang “berhasil.” Karya itu, seolah mengajak kita untuk mengikuti alurnya, tanpa sedikitpun membuat kita merasa jenuh, tapi malah membuat kita merasa sayang untuk melewatkannya. Tentu, kalau sudah begitu, karya itu pun akan digemari oleh banyak pembaca.
Nah, rasa ingin tahu pembaca, yang juga dapat disebut dengan istilah suspense (sebab mengacu kepada “ketegangan” yang dialami pembaca), adalah satu hal yang mesti dipertimbangkan dengan serius oleh seorang penulis. Sebab, …
Bengkel Sastra »
“….sebenarnya saya pengen jadi perawat, tapi bersyukur banget kalo bisa jadi perawat yang bisa nulis.”
Kalimat ini datangnya dari seorang mahasiswi di sebuah Akademi Perawat (AKPER) di Pekanbaru. Dia, mendaftarkan diri ke Sekolah Menulis Paragraf yang saya (dan kawan-kawan) kelola. Dan, dia tidak sendiri. Puluhan “calon penulis” yang datang mendaftar, rupanya memiliki beragam “profesi” dan latar belakang. Syukur-syukur, mereka semua memang sedang benar-benar serius hendak menjadi penulis, atau setidaknya “bisa nulis.”
Demikianlah memang dunia kepenulisan. Sebuah dunia yang “siapa pun” bisa masuk ke dalamnya. Meski, kata “siapapun” di sana, tidak serta merta …
Bengkel Sastra »
SEPEKAN terakhir, saya menerima lebih dari 30 kiriman karya (baik puisi maupun cerpen) dari sobat Xpresi, dari berbagai daerah di Riau, bahkan dari luar Riau. Saya tentu bahagia. Sebab ini bisa jadi indikasi bahwa gairah para penulis remaja kita (khususnya fiksi) memang cukup menggembirakan. Dan artinya juga, rubrik “sastra remaja” yang memang disediakan Riau Pos sebagai ruang belajar menulis ini, kian banyak diminati.
Namun begitu, tentu saja dari sekian banyak karya itu, ada karya yang masih lemah, ada karya yang sudah mulai kuat, dan ada karya yang sudah cukup berhasil dan …
Bengkel Sastra »
DALAM “bengkel sastra” edisi minggu lalu, saya sempat menyinggung tentang fakta dalam karya fiksi, terutama untuk mengulas cerpen sobat kita Sri Nurwidayati. Minggu ini, saya hendak memperluas pembahasannya. Karena, hampir semua karya sastra (fiksi) ditulis oleh pengarangnya, berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, yang tentu saja banyak mengandung fakta-fakta.
Benar, bahwa karya sastra dikategorikan ke dalam karya tulis jenis fiksi, karena di dalamnya terkandung rekayasa, sesuatu yang fiktif. Tapi tidak benar, bahwa karya sastra telah “berbohong” pada pembaca tentang berbagai fakta yang terkandung di dalamnya. Sebab, rekayasa dalam karya sastra tidak “diniatkan” untuk …
Bengkel Sastra »
TANGGAL 20 sampai 22 November 2009 ini, saya diundang untuk me-ngikuti event sastra internasional di Kuala Lumpur. Event itu bertajuk Pertemuan Penyair Nusantara 2009 (Kuala Lumpur International Poetry Gathering 2009). Tentu saja, event ini cukup penting. Penting, karena yang pasti dapat memperluas “pergaulan” sastra. Apalagi melibatkan sejumlah negara.
Beberapa event besar lain yang pernah saya ikuti, seperti International Literary Biennale 2005 di Lampung, Bandung, Jakarta, dan Ubud Writers and Readers Festival 2007 di Bali, mengingatkan saya betapa sesungguhnya sebuah pertemuan “kreatif” se-macam ini dapat membangkitkan semangat saya untuk terus berkarya dengan …




