Home » Bengkel Sastra

Koreksi Karya Sebelum Dikirim

13 Desember 2009 354 views No Comment

SEPEKAN terakhir, saya menerima lebih dari 30 kiriman karya (baik puisi maupun cerpen) dari sobat Xpresi, dari berbagai daerah di Riau, bahkan dari luar Riau. Saya tentu bahagia. Sebab ini bisa jadi indikasi bahwa gairah para penulis remaja kita (khususnya fiksi) memang cukup menggembirakan. Dan artinya juga, rubrik “sastra remaja” yang memang disediakan Riau Pos sebagai ruang belajar menulis ini, kian banyak diminati.

Namun begitu, tentu saja dari sekian banyak karya itu, ada karya yang masih lemah, ada karya yang sudah mulai kuat, dan ada karya yang sudah cukup berhasil dan bagus. Soal “kualitas” karya memang jadi prioritas pertimbangan utama, layak atau tidak layaknya karya-karya itu dimuat. Meski standar kualitas di sini, tidak serta merta membuat ia tanpa cacat. Karena sebagai sebuah ruang belajar, tentu standarisasinya lebih melihat pada karya-karya yang berpotensi untuk bisa menjadi bagus jika menulis lebih serius.

Selain kualitas, ada satu hal yang tak kalah penting untuk adik-adik perhatikan. Apa itu? Mengoreksi karya sebelum dikirim ke media massa. Kenapa tema ini saya angkat? Karena hampir semua karya-karya yang masuk di kotak email saya tampak tidak benar-benar siap untuk dikirimkan. Karya-karya itu sepertinya belum dikoreksi dengan teliti, dan tergesa-gesa untuk dikirimkan.

Terutama misalnya soal aturan-aturan baku teknis tata-bahasa dalam tulisan. Baik itu dilihat dari Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tanda baca (pungtuasi), alinea, dan sebagainya (yang mestinya dalam pelajaran Bahasa Indonesia sudah dipelajari dengan baik). Rata-rata, karya yang masuk lemah (bahkan ada yang sangat lemah) dalam soal ini. Sehingga, saya bekerja lebih ekstra ketika harus mengedit karya tersebut. Itu pun jika karya tersebut memang cukup bagus dari sisi isi (intrinsik). Jika tidak, maka tentu saja sulit kemungkinannya untuk dapat dimuat.
Selain soal tata-bahasa, hal yang juga tak bisa dipisahkan adalah soal ketelitian dan keseriusan dalam berkarya. Ketelitian dan keseriusan dapat dilihat dari sejauh mana adik-adik melakukan pencarian dan penggalian dalam proses berkarya. Jika yang terbaca dalam karya itu hanya terdiri dari bahasa-bahasa yang klise, dengan narasi seadanya, tema-tema yang tak jauh berbeda dengan sinetron-sinetron kita yang dibuat-buat itu, maka tentu karya itu miskin pencarian. Pasti akan gampang melihat, mana karya yang dikerjakan dengan serius, dan mana karya yang dikerjakan dengan iseng dan malas-malasan.

Nah, maka sebaiknya sebelum karya adik-adik dikirim ke media, karya itu sudah melewati proses koreksi, bahkan bisa sampai pada proses revisi. Jangan lekas-lekas hendak mengirimkannya karena ingin cepat-cepat dimuat. Karya yang sudah selesai itu terlebih dulu dibaca berkali-kali dengan teliti. Dengan begitu, jika karya tersebut memang terdapat berbagai kesalahan teknis (salah ketik, dan tata bahasa) maupun non teknis akan segera diketahui, dan segera pula diperbaiki. Jadi, karya yang akan dikirim itu memang betul-betul telah diuji di meja kerja kita sendiri, sebelum masuk ke meja kerja redaksi media.

Perlu adik-adik ketahui, bahwa koreksi dan revisi ini bukanlah hal yang tabu dalam proses kreatif kepenulisan. Seorang AA Navis misalnya, si pengarang Robohnya Surau Kami itu, melakukan perbaikan berkali-kali pada setiap karya tulisnya. Kalau adik-adik membaca buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, yang dieditori oleh Pamusuk Eneste, di sana Navis menjelaskan bagaimana proses koreksi dan revisi itu.

Misalnya, Navis tak segera mengiim karya yang sudah selesai ia tulis. Ia menunggu beberapa lama, dan kemudian ia baca kembali. Kalau memang sudah dianggap baik, barulah ia kirimkan. Kenapa menunggu? Bagi Navis, ketika ia membaca kembali karya itu setelah menunggu beberapa waktu, ia seolah membaca karya orang lain, sehingga ia lebih leluasa melakukan kritik terhadap karya tersebut.

Jadi, andai adik-adik hendak betul-betul belajar menulis, dan menghasilkan karya yang baik dan kian berkembang menjadi lebih baik lagi, maka koreksilah karya adik-adik itu dengan teliti. Jangan asal jadi. Jangan menganggap bahwa hasil jerih dari proses penciptaan karya adik-adik ini tidak berharga sama sekali dalam pengembangan potensi kemanusiaan adik-adik di masa mendatang. Karya yang besar, pastilah berasal dari kerja yang “besar” pula.

Adik-adik, minggu ini Desy Wahab hadir lewat cerpennya berjudul “Tarian Amora.” Gagasan yang terkandung dalam cerpen ini sebetulnya menarik, jika ia ditarik ke dalam konflik-konflik yang kuat. Desy pun sebenarnya sudah berupaya menggapai itu. Meski pun masih belum sampai pada titik pergulatan konflik yang kuat dan menawarkan pencerahan. Problema yang dihadapi oleh seorang penari tradisional, adalah sebuah tema cerita yang potensial, sebab di sana dapat terhidangkan berbagai problem sosial yang lebih luas. Sayangnya, cerpen ini belum mengungkainya dengan lebih liar dan harus pula ditutup dengan happy ending. Bukan salah, tapi membuat cerpen ini menjadi dangkal. Tapi, Desy, jangan berkecil hati, cerpen ini sudah memperlihatkan kepiawaian Desy dalam berbahasa.

Berikutnya ada puisi “Yang Terhormat Ibuku” karya Zulkarnain. Tergambar di sana, si aku lirik yang menyimpan kesedihan, juga kerinduan. Meskipun sang ibu telah tiada, ia masih tetap “hidup” di hati si aku lirik. Puisi ini memang terkesan sederhana, karena pilihan diksinya belum mampu menyemai makna yang lebih luas.

Lalu ada puisi sobat kita Yelna Yuristiary berjudul “Cerita Sendu Kipas Salorangeng.” Puisi ini mengesankan unsur lokalitas bermain dalam wacana sosial. Si aku lirik seperti memberi kritik atas realitas sosial itu, mengutarakan berbagai kegelisahan batin dan pikirannya. Sementara ia hidup dalam realitas itu. Selain bahwa Yelna, telah berupaya membangun diksi-diksi naratifnya dengan cukup baik. Beberapa kelemahan yang kadang terasa di beberapa patahan baris-barisnya seolah dapat tertutupi.

Puisi ketiga ada Sadriadi dengan “Problema Tikus Indonesia.” Bolehlah, puisi serupa ini  kita kategorikan ke dalam “puisi panflet.” Puisi yang kerap dipakai (dan lebih artikulatif) dalam sebuah demonstrasi, menyikapi berbagai hal yang terjadi di negeri ini, terkhusus tema korupsi, yang belakangan santer terdengar. Meski begitu, jangan pula lupa bahwa puisi tak semata corong, tapi juga adalah pikiran dan perasaan yang “estetik,” sehingga tak hanya berhenti di tingkat “slogan” saja.

Terakhir, “Tanah Surga” karya Riza Rizki terhidang di sini. Riza cukup padat dan liar memainkan diksi, juga irama, juga pilihan metafora. Ada pula kritik, kegelisahan yang dalam di sana. Selain kepedihan dan harapan. Meski akan berat mengurai permaknaanya, setidaknya Riza telah berupaya me-ngeksplorasi bahasa sedemikian rupa, mencoba menggali kemungkinan karakter yang khas dari proses ke-penulisannya.***

————————

Oleh: Marhalim Zaini


Baca Juga Yang Dibawah ini


  • » Saya Bingung, Mau Nulis Puisi atau Cerpen?
  • » Jangan Remehkan Pelajaran Bahasa dan Sastra
  • » Memainkan Sudut Pandang dalam Cerita
  • » 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian-3)
  • » 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian-2)
  • » Sastra Serius dan Sastra Populer
  • » Amanat dan Moral dalam Sastra
  • » Cinta Sastra = Cinta Buku
  • » Tentang Latar Cerita dalam Fiksi
  • » Mencatat Pengalaman Puitik
  • » Apa Guna Karya Sastra Bagi Kita?
  • » Berikan Surprise pada Pembaca
  • » Membangkitkan Suspense Pembaca
  • » ‘Setiap Orang’ Bisa Menjadi Penulis
  • » Mengolah Fakta Menjadi Fiksi
  • » Memperluas Pergaulan Sastra
  • » Gairah Penulis Remaja Kita
  • » Cara Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis
  • » Kembali ke Titik Nol
  • » Produktivitas Menulis dan “Jam Terbang”
  • Silakan beri komentarmu

    Berikan komentarmu. Bisa juga minta info jika ada komentar baru lewat RSS.

    Curahkan isi hati, tunjukkan Xpresi mu!!! no spam or your IP will be banned

    Kamu juga bisa gunakan tags ini:
    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>